Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Sistem Kardiovaskuler

Daftar Laporan Praktikum Fisiologi Hewan:

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Pemanfaatan Growth Hormone Pada Hewan Ternak dan Pengaruh Bagi Manusia

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Pengaruh Insektisida Terhadap Kerja Syaraf Serangga

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Sistem Kardiovaskuler

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Pengaruh Suhu Terhadap Gerakan Operkulum

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Sistem Endokrin

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Termoregulasi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem kardiovaskuler pada prinsipnya terdiri dari jantung, pembuluh darah dan saluran limfe. Sistem ini berfungsi untuk mengangkut oksigen, nutrisi dan zat-zat lain untuk didistribusikan ke seluruh tubuh serta membawa bahan-bahan hasil akhir metabolisme untuk dikeluarkan dari tubuh (Fikriana, 2018). Menurut Guntur (2019) salah satu organ utama dalam sistem kardiovaskular adalah jantung, organ ini merupakan organ muscular yang berlubang yang berfungsi sebagai pompa ganda sistem kardiovaskular. Sisi kanan jantung memompa darah ke paru sedang sisi kiri jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Pada jantung, terdapat dua jenis sel otot yaitu sel kontraktil dan sel autoritmik. Sel kontraktil, sebagaimana halnya otot rangka akan berkontraksi jika ada rangsangan (stimulus). Sel autoritmik pada jantung mampu menstimulasi sel tersebut untuk berkontraksi tanpa perlu rangsangan dari luar, hal ini menimbulkan keunikan tersendiri pada otot jantung dibandingkan dengan otot lainnya (Roosita et al., 2016).

Sel otot jantung melakukan kontraksi dengan tujuan untuk memompakan darah dan dicetuskan oleh sebuah potensial aksi kemudian menyebar melalui membran sel otot. Kejadian tersebut diakibatkan karena jantung memiliki mekanisme untuk mengalirkan listrik yang ditimbulkannya sendiri untuk melakukan kontraksi atau memompa dan melakukan relaksasi. Mekanisme aliran listrik yang menimbulkan aksi tersebut dipengaruhi oleh beberapa jenis elektrolit seperti K+, Na+, dan Ca2+, sehingga bila di dalam tubuh terjadi gangguan kadar elektrolit tersebut maka akan menimbulkan gangguan pula pada mekanisme aliran listrik pada jantung (Guyton dan Hall, 2007 dalam Hardi dan Wangko, 2012). Konsep terkait dengan keseimbangan terdapat dalam firman Allah Al-Quran surah Al-Mulk ayat 3 yang berbunyi:

Al-Quran surah Al-Mulk ayat 3 kardiovaskuler

Artinya: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”

Ayat tersebut mengandung pengertian bahwa Allah Yang Maha Pemurah telah menciptakan sesuatu secara seimbang, tidak ada satu pun yang luput dari perhatian Allah sehingga menjadi tidak seimbang. Seperti pada pengaturan ion-ion yang dapat mempengaruhi kerja jantung. Oleh karena itu, penting bagi untuk mengetahui terkait dengan pengaruh ion-ion tersebut terhadap aktivitas jantung sehingga jantung dapat menjalankan fungsinya. serta diharapkan dengan adanya praktikum sistem kardiovaskuler merupakan wujud kita dalam mengkaji dan mempelajari penciptaan-Nya serta dapat menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari praktikum ini yaitu bagaimanakah pengaruh beberapa faktor ekstrinsik (ion) terhadap aktivitas jantung?

1.3 Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini yaitu mengamati pengaruh beberapa faktor ekstrinsik (ion) terhadap aktivitas jantung.


BAB II METODE PRAKTIKUM

2.1 Waktu dan Tempat

Penelitian dilaksanakan pada 12 November 2021 pukul 15.00 WIB-selesai via zoom meeting dan hibrid dengan tempat pengamatan berlokasi di Laboratorium Ekologi, Program Studi Biologi.

2.2 Alat dan Bahan

2.2.1 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:

  1. Papan dan alat seksi (3 Buah)
  2. Cawan Petri (3 Buah)
  3. Botol Erlenmeyer (3 Buah)
  4. Pipet tetes (3 Buah)
  5. Jarum Pentul (Secukupnya)
  6. Silet tetra (2 Buah)

2.2.1 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:

  1. Kodok (Duttaphrynus sp.) (3 Ekor)
  2. Etanol 95% (Secukupnya)
  3. Kapas Gulung (Secukupnya)
  4. NaCl 0,7% (Secukupnya)
  5. CaCL2 1% (Secukupnya)
  6. KCL 0,9% (Secukupnya)
  7. Aquades (Secukupnya)
  8. Tisu (Secukupnya)
  9. Kresek (Secukupnya)

2.3 Langkah Kerja

Langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini yaitu:

  1. Dilakukan pembiusan pada kodok.
  2. Diletakkan kodok pada bak parafin dalam posisi terlentang.
  3. Ditusuk kaki depan dan belakang katak dengan jarum pentul.
  4. Dilakukan pembedahan kodok dan pisahkan jantung dari tubuh dan diletakkan dalam cawan petri.
  5. Dihitung denyutnya per menit.
  6. Diteteskan larutan bahan yang telah disediakan pada jantung kodok di cawan petri.
  7. Dihitung denyutnya per menit.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Hasil dari praktikum ini ditunjukkan pada tabel berikut:

No.PerlakuanFrekuensi Denyut Jantung per Menit
SebelumSesudah
1.Pemberian NaCl 0,9%8770
2.Pemberian CaCl2 1%7172
3.Pemberian KCl 0,9%3549

3.2 Pembahasan

Kontraksi Otot Jantung

Seperti halnya otot rangka, otot jantung menggunakan energi kimia untuk menyebabkan kontraksi. Energi ini dihasilkan terutama dari metabolisme oksidatif asam lemak dan sebagian kecil dari bahan makanan lain, khususnya laktat dan glukosa (Hardi dan Wangko, 2012). Mekanisme aliran listrik yang menimbulkan aksi tersebut dipengaruhi oleh beberapa jenis elektrolit seperti K+, Na+, dan Ca2+, sehingga bila di dalam tubuh terjadi gangguan kadar elektrolit tersebut maka akan menimbulkan gangguan pula pada mekanisme aliran listrik pada jantung (Guyton dan Hall, 2007 dalam Hardi dan Wangko, 2012).

Menurut Irawati (2015) kontraksi sel otot jantung terjadi oleh adanya potensial aksi yang dihantarkan sepanjang membran sel otot jantung. Jantung akan berkontraksi secara ritmik, akibat adanya impuls listrik yang dibangkitkan oleh jantung sendiri. Pada membran sel otot jantung potensial aksi dapat terjadi tanpa adanya rangsangan. Berbeda dari sel saraf dan sel otot rangka yang memiliki potensial membran istirahat.

Sel-sel khusus jantung tidak memiliki potensial membran istirahat. Sel-sel ini memperlihatkan aktivitas “pacemaker” (picu jantung) berupa depolarisasi lambat yang diikuti oleh potensial aksi apabila potensial membran tersebut mencapai ambang tetap. Hal ini menimbulkan potensial aksi secara berkala yang akan menyebar ke seluruh jantung untuk menyebabkan jantung berdenyut secara teratur tanpa adanya rangsangan melalui saraf. Potensial aksi sel otoritmik jantung mempunyai 4 fase: fase 0 (depolarisasi cepat), fase 1 (repolarisasi awal), fase 2 (plateu), fase 3 (repolarisasi cepat), fase 4 (istirahat).


Perlakuan Pemberian NaCl

Berdasarkan data hasil pengamatan jantung kodok yang dilakukan selama kurang lebih dua menit, pada menit pertama tanpa perlakuan menunjukkan jantung berdenyut sebanyak 87 kali. Kemudian, pada menit kedua dengan perlakuan pemberian NaCl 0,7% menunjukkan terjadi penurunan denyut menjadi 71 kali. Berdasarkan hal ini, diketahui bahwa NaCl berperan dalam penurunan sistem kerja jantung. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nugroho (2021) bahwa ion natrium berperan dalam menekan fungsi jantung. Data yang diperoleh terhadap pemberian NaCl kurang lebih sesuai dengan penelitian Purnamasari (2019) bahwa saat jantung kodok diberi larutan fisiologis (NaCI) sebanyak 3 tetes pada suhu kamar, jantung bekerja 79/menit, itu adalah kerja normal jantung pada suhu normalnya.

Perlakuan Pemberian CaCl2

Berdasarkan data hasil pengamatan jantung kodok yang dilakukan selama kurang lebih dua menit, pada menit pertama tanpa perlakuan menunjukkan jantung berdenyut sebanyak 71 kali. Kemudian, pada menit kedua dengan perlakuan pemberian CaCl2 1% menunjukkan terjadi peningkatan denyut menjadi 72 kali. Berdasarkan hal ini, diketahui bahwa CaCl berperan dalam peningkatan sistem kerja jantung. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hardi dan Wangko (2012) bahwa ion Ca2+ sangat berperan dalam terjadinya potensial aksi upstroke pada sel nodus SA, sehingga pada keadaan di mana terjadi berkurangnya ion Ca2+ masuk ke dalam intrasel, hal ini akan mengakibatkan frekuensi jantung menurun.

Menurut Irawati (2015) setelah repolarisasi awal, untuk mempertahankan ambang potensial di membran sel maka ion kalsium (Ca2+) akan segera masuk sementara ion kalium tetap keluar. Dengan begini, ambang potensial membran sel akan tetap datar untuk mempertahankan kontraksi sel otot jantung. Akan tetapi, kenaikan yang terjadi pada pemberian CaCl2 menunjukkan angka yang sangat sedikit, hal tersebut diduga terjadi karena ditemukan adanya lemak yang menutupi jantung kodok serta terdapat endoparasite (cacing) seperti penelitian Hardi (2015) bahwa endoparasit biasanya ditemukan pada organ hati, saluran pencernaan, ginjal, jantung, daging, dan organ dalam lainnya. Endoparasit dapat ditularkan melalui makanan, yaitu melalui makanan yang kurang bersih sehingga mudah terinfeksi parasit dan penyebaran endoparasite juga dapat melalui air. Hewan yang terinfeksi endoparasit biasanya lesu, pucat, kerusakan organ, kondisi tubuh menurun bahkan bisa mengakibatkan kematian (Pradana et al., 2015).


Perlakuan Pemberian KCI

Berdasarkan data hasil pengamatan jantung kodok yang dilakukan selama kurang lebih dua menit, pada menit pertama tanpa perlakuan menunjukkan jantung berdenyut sebanyak 35 kali. Angka yang ditunjukkan merupakan suatu anomali, karena normalnya jantung kodok dalam 1 menit berkisar 70-80 detak. Pernyataan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Merta et al., (2019) bahwa denyut jantung kodok reratanya 69 per menit selain itu, pada penelitian Hardi dan Wangko, (2012) bahwa ritme jantung normal yaitu 60-100x per menit, biasanya disebut irama nodus sinus.

Menit kedua dengan perlakuan pemberian KCl 0,9% menunjukkan terjadi peningkatan denyut menjadi 49 kali. Data yang ada menunjukkan KCl berperan dalam peningkatan sistem kerja jantung. Hal ini merupakan suatu ketidaknormalan karena pada dasarnya KCl berperan dalam penurunan sistem kerja jantung. Pernyataan ini sesuai dengan Irawati (2015) bahwa segera setelah fase 0 (depolarisasi cepat), channel untuk ion K+ (potassium) terbuka dan melewatkan ion kalium ke luar dari dalam sel. Hal ini membuat potensial membran sel menjadi lebih turun sedikit. terbukanya saluran K+ pada sel nodus SA menyebabkan keadaan yang lebih negatif dalam membran sel pada nilai -65 sampai -75 mV (normalnya -55 sampai -60 mV), yang disebut keadaan hiperpolarisasi (Hardi dan Wangko, 2012).

Nugroho (2021) juga menyatakan bahwa kelebihan ion kalsium menyebabkan jantung dilatasi, lemah, dan frekuensi lambat. Maka, diduga anomali yang terjadi pada pengamatan ini disebabkan oleh lamanya waktu proses pembedahan untuk pemindahan jantung kodok ke cawan petri, sehingga detak mulai melemah saat dilakukan perhitungan. Seperti yang dikatakan oleh Merta et al., (2019) bahwa keberhasilan pengamatan struktur dan frekuensi denyut jantung pada hewan coba sangat ditentukan oleh teknik-teknik pembedahan.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Kontraksi sel otot jantung terjadi oleh adanya potensial aksi yang dihantarkan sepanjang membran sel otot jantung. Jantung akan berkontraksi secara ritmik, akibat adanya impuls listrik yang dibangkitkan oleh jantung sendiri. Pada membran sel otot jantung potensial aksi dapat terjadi tanpa adanya rangsangan. Mekanisme aliran listrik yang menimbulkan aksi tersebut dipengaruhi oleh beberapa jenis elektrolit seperti K+, Na+, dan Ca2+, sehingga bila di dalam tubuh terjadi gangguan kadar elektrolit tersebut maka akan menimbulkan gangguan pula pada mekanisme aliran listrik pada jantung.

Pemberian larutan KCl 0,9%, CaCl2 1%, dan NaCl 0,9% berpengaruh terhadap peningkatan maupun penurunan denyut jantung. Pemberian larutan KCl 0,9% menyebabkan terjadinya penurunan denyut jantung. Oleh karena itu, KCl 0,9% berperan dalam menurunkan sistem kerja jantung. Pemberian CaCl2 1% menyebabkan terjadinya peningkatan denyut jantung. Oleh karena itu, CaCl2 1% berperan dalam meningkatkan sistem kerja jantung. Selain itu, pemberian NaCl 0,9% juga menyebabkan terjadinya penurunan denyut jantung seperti halnya KCl. Oleh karena itu, NaCl 0,9% juga berperan dalam menurunkan sistem kerja jantung.


4.2 Saran

Saran berdasarkan praktikum yang telah dilakukan yaitu hati-hati dalam melakukan pembedahan pada kodok, sehingga tidak merusak organ jantung yang akan diamati. Selain itu, dalam melakukan pembiusan usahakan agar kodok benar-benar pingsan terlebih dahulu sebelum dilakukan pembedahan.

DAFTAR PUSTAKA

Fikriana, R. (2018). Sistem Kardiovaskuler. Deepublish.

Guntur. (2019). Sistem Kardiovaskular. Uwais Inspirasi Indonesia.

Hardi, E. H. (2015). Parasit biota akuatik. Mulawarman University Press.

Hardi, W., & Wangko, S. (2012). Peran sel nodus sinoatrial sebagai pengatur irama jantung. Jurnal Biomedik, 4(3).

Irawati, L. (2015). Aktifitas listrik pada otot jantung. Jurnal Kesehatan Andalas, 4(2).

Merta, I. W., Bachtiar, I., Syachruddin, A. R., & Kusmiyati. (2019). Penyuluhan tehnik pembedahan hewan coba untuk mengamati struktur dan frekwensi denyut jantung pada siswa SMP Negeri 7 Mataram. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 1(2).

Nugroho, S. A. (2021). Buku Ajar Anatomi Dan Fisiologi Sistem Tubuh Bagi Mahasiswa Keperawatan Medikal Bedah. https://doi.org/10.31219/osf.io/wnjr7

Pradana, D. P., Haryono. T., & Ambarwati, R. (2015). Identifikasi cacing endoparasit pada feses ayam pedaging dan ayam petelur. LenteraBio, 4(2).

Purnamasari, S., & Setiyadi, M. W. (2019). Pengaruh zat kimia pada berbagai suhu terhadap denyut jantung katak (Rana sp.) Dalam upaya pengembangan buku petunjuk praktikum fisiologi hewan. Jurnal Ilmiah Biologi, 7(2).

Roosita, K., Subandriyo, V. U., Ekayanti, K. R., & Nurdin, N. M. (2016). Fisiologi manusia. IPB Press. Bogor.

Tinggalkan komentar