Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Pengaruh Suhu Terhadap Gerakan Operkulum

Daftar Laporan Praktikum Fisiologi Hewan:

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Pemanfaatan Growth Hormone Pada Hewan Ternak dan Pengaruh Bagi Manusia

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Pengaruh Insektisida Terhadap Kerja Syaraf Serangga

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Sistem Kardiovaskuler

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Pengaruh Suhu Terhadap Gerakan Operkulum

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Sistem Endokrin

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Termoregulasi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suhu tubuh atau termoregulasi adalah keseimbangan antara kehilangan panas dan produksi panas tubuh yang tujuannya adalah untuk mengontrol lingkungan suhu netral dan meminimalkan energi (Lestari et al., 2014). Dengan mengacu pada suatu variabel lingkungan tertentu, organisme dapat dikelompokkan sebagai regulator (pengatur), yang mempertahankan lingkungan internal yang mendekati konstan di atas kisaran kondisi eksternal, atau konformer (penyesuai), yang membiarkan lingkungan internalnya bervariasi mengikuti variasi eksternal (Yustina dan Darmadi, 2017). Oleh karena itu, berdasarkan pengaturan suhu tubuh, organisme dibedakan menjadi thermoregulator dan thermoconformer. Pisces termasuk ke dalam hewan ektotermi atau poikiloterm (Fajar, 2021).

Suhu merupakan salah satu dari faktor abiotik yang paling penting yang dapat mempengaruhi daya tahan hidup, reproduksi, makan, pertumbuhan, dan kekhasan perilaku hewan poikilotherm. Selama perkembangan evolusioner dan penguasaan berbagai relung ekologi, beberapa bentuk utama terkait dengan adaptasi termal dikembangkan oleh ikan (Golovanov, 2006). Indikator suhu digunakan untuk mengetahui perilaku makhluk hidup termasuk tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) yang diakibatkan oleh pengaruh perubahan suhu. Adapun parameter yang dapat diamati yaitu meliputi bukaan operkulum (Fajar, 2021).

Pernyataan tersebut mengandung pengertian bahwa meskipun bergantung pada suhu lingkungannya, ikan mas memiliki adaptasi tingkah laku yang bertujuan dalam mencapai kondisi seimbang guna menunjang kelangsungan hidupnya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Allah dalam surah Al-Mulk ayat 3 yang berbunyi:

Al-Quran surah Al-Mulk ayat 3 kardiovaskuler Pengaruh Suhu Terhadap Gerakan Operkulum

Artinya: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah Yang Maha Pemurah telah menciptakan sesuatu secara seimbang, tidak ada satu pun yang luput dari perhatian Allah sehingga menjadi tidak seimbang. Seperti dapat terlihat pada pengaturan suhu tubuh hewan thermoconformer, yang berupaya mencapai tujuan yaitu keseimbangan. Oleh karena itu, praktikum ini penting untuk dilakukan sehingga kita dapat memahami terkait dengan pengaruh suhu terhadap gerakan operkulum pada ikan mas serta diharapkan dengan adanya praktikum ini merupakan wujud kita dalam mengkaji dan mempelajari ciptaan-Nya serta dapat menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari praktikum ini yaitu bagaimanakah pengaruh suhu terhadap gerakan operkulum pada ikan mas?

1.3 Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini yaitu mengetahui pengaruh suhu terhadap gerakan operkulum pada ikan mas.


BAB II METODE PRAKTIKUM

2.1 Waktu dan Tempat

Penelitian dilaksanakan pada 19 November 2021 pukul 15.00 WIB-selesai via zoom meeting dan hibrid dengan tempat pengamatan berlokasi di Laboratorium Ekologi, Program Studi Biologi.

2.2 Alat dan Bahan

2.2.1 Alat

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:

  1. Toples (6 Buah)
  2. Thermometer (6 Buah)
  3. Stopwatch (6 Buah)
  4. Heater/pemanas air (1 Buah)
  5. Alat tulis kantor (1 Set)
  6. Alat dokumentasi (1 Buah)

2.2.1 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:

  1. Ikan mas (Cyprinus carpio) (6 Ekor)
  2. Air (Secukupnya)
  3. Es batu (Secukupnya)

2.3 Langkah Kerja

Langkah kerja yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:

  1. Disiapkan tiga buah toples (diberi label A, B, C) dan diisi air masing-masing toples sebanyak 750 mL
  2. Diukur suhu air pada toples A (suhu normal, terukur 28°C).
  3. Dimasukkan es secara perlahan ke dalam toples B sampai suhu air menjadi 10°C.
  4. Air dalam toples C dihangatkan secara perlahan sampai suhu air menjadi 40°C.
  5. Dimasukkan satu ikan mas ke dalam masing-masing toples.
  6. Diamati dan dihitung jumlah pembukaan operkulum (penutup insang) pada 2 menit pertama dan 2 menit kedua.
  7. Diisi data pengamatan.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dari praktikum ini ditunjukkan pada tabel berikut.

No.PerlakuanUlanganJumlah Pergerakan
Operkulum Ikan Mas
Keterangan (Keadaan Ikan)
0-2 menit2-4 menit
1.Suhu Tinggi (40°C)Ikan Mas ke-1267405- Gerakan operkulum semakin cepat
- Menit ke 2.30 ikan mulai lemas
- Menit ke 3.35 ikan pingsan hingga mengalami kematian
Ikan Mas ke-2324153
Rata-rata295,5279
2.Suhu Normal (26°C)Ikan Mas ke-1160155Gerakan operkulum semakin menurun
Ikan Mas ke-2185150
Rata-rata172,5152,5
3.Suhu Rendah (10°C)Ikan Mas ke-1154114Gerakan operkulum semakin melambat
Ikan Mas ke-2160130
Rata-rata157122

3.1 Perlakuan Suhu Tinggi

Pengamatan yang dilakukan selama empat menit terhadap gerakan operkulum ikan mas yang ditempatkan pada air dengan suhu tinggi (40°C), dengan dua kali ulangan menunjukkan bahwa pada ulangan pertama, dua menit pertama menunjukkan gerakan operkulum ikan mas sebanyak 267 kali. Dua menit kedua mengalami peningkatan pesat menjadi sebanyak 405 kali. Ulangan kedua pada dua menit pertama menunjukkan gerakan operkulum ikan mas sebanyak 324 kali. Sedangkan, dua menit kedua menunjukkan adanya penurunan pergerakan hingga menjadi sebanyak 153 kali. Sehingga, rata-rata pergerakan operkulum umumnya mengalami penurunan dari semula 295,5 kali menjadi 279 kali.

Gerakan operkulum ikan pada suhu tinggi seharusnya menunjukkan pola peningkatan karena terdapat penurunan kadar oksigen terlaur pada air panas. Sehingga, ikan melakukan banyak pergerakan operkulum untuk memperoleh oksigen dari air. Pernyataan tersebut didukung oleh Kelabora (2010), dalam Fajar (2021), bahwa suhu di atas kisaran normal akan menaikkan laju metabolisme dengan kebutuhan oksigen yang bertambah, namun dengan suhu yang tinggi akan menurunkan jumlah oksigen terlarut dalam lingkungan air sehingga ikan akan kesusahan bernapas dan gerakan renang tidak beraturan. Selain itu, menurut Sahetapy & Borut (2018), menipisnya persediaan oksigen terlarut dalam air sehingga ikan mas kesulitan bernapas dan berdampak terhadap peningkatan frekuensi bukaan operkulum.

Penurunan pada ulangan kedua sekaligus berdampak pada penurunan nilai rata-rata diduga disebabkan oleh stres karena adaptasi yang dilakukan ikan mas. Hal ini dibuktikan dengan ikan mas yang terlihat mulai lemas pada menit 2.30 dan mengalami pingsan pada menit ke 3.35 hingga akhirnya mengalami kematian. Menurut Irianto (2005), dalam Aliza et al. (2013), suhu tinggi yang masih dapat ditoleransi oleh ikan tidak selalu berakibat mematikan pada ikan tetapi dapat menyebabkan gangguan status kesehatan untuk jangka panjang, misalnya stres yang menyebabkan tubuh lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal hingga kematian. Jika oksigen terlarut tidak seimbang akan menyebabkan stres pada ikan karena otak tidak mendapat suplai oksigen yang cukup. ketika suhu air meningkat, ikan yang syok atau stres karena tekanan peningkatan suhu yang tinggi akan mudah terserang penyakit (Siegers et al., 2019).


3.2 Perlakuan Suhu Normal

Pengamatan yang dilakukan selama empat menit terhadap gerakan operkulum ikan mas yang ditempatkan pada air dengan suhu normal (26°C), dengan dua kali ulangan menunjukkan bahwa pada ulangan pertama, dua menit pertama menunjukkan gerakan operkulum ikan mas sebanyak 160 kali. Dua menit kedua mengalami penurunan yang tidak signifikan menjadi sebanyak 155 kali. Ulangan kedua pada dua menit pertama menunjukkan gerakan operkulum ikan mas sebanyak 185 kali. Sedangkan, dua menit kedua menunjukkan adanya penurunan pergerakan hingga menjadi sebanyak 150 kali. Sehingga, rata-rata pergerakan operkulum umumnya mengalami penurunan meskipun tidak signifikan dari semula 172,5 kali menjadi 152,5 kali. Sehingga, pergerakan operkulum pada suhu normal masih terbilang normal.

Menurut Azwar et al. (2016) kisaran suhu normal pada perairan tropis khususnya Indonesia adalah 27-32°C. Menurut penelitian yang dilakukan Fajar (2021), ikan mas dengan perlakuan suhu kontrol 28°C nampak gerakan bukaan operkulum ikan mas normal sebanyak 437 kali selama 10 menit. Pergerakan bukaan operkulum ikan, umumnya dengan suhu kontrol 28°C, operkulum membuka dengan teratur normal. Angka tersebut tentunya tidak jauh berbeda dari data yang diperoleh dalam praktikum ini dengan pengamatan selama 4 menit dengan suhu 26°C.

3.3 Perlakuan Suhu Rendah

Pengamatan yang dilakukan selama empat menit terhadap gerakan operkulum ikan mas yang ditempatkan pada air dengan suhu rendah (10°C), dengan dua kali ulangan menunjukkan bahwa pada ulangan pertama, dua menit pertama menunjukkan gerakan operkulum ikan mas sebanyak 154 kali. Dua menit kedua mengalami penurunan yang cukup pesat menjadi sebanyak 114 kali. Ulangan kedua pada dua menit pertama menunjukkan gerakan operkulum ikan mas sebanyak 160 kali. Sedangkan, dua menit kedua menunjukkan adanya penurunan pergerakan yang juga cukup pesat hingga menjadi sebanyak 130 kali. Sehingga, rata-rata pergerakan operkulum umumnya mengalami penurunan dari semula 157 kali menjadi 122 kali.

Pergerakan operkulum pada ikan mas dengan suhu dingin ini menunjukkan bahwa suhu dingin mengakibatkan terjadinya penurunan gerakan operkulum pada ikan. Hal ini terjadi karena peningkatan jumlah oksigen terlarut pada air dengan suhu dingin. Pernyataan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Fajar (2021) bahwa ikan mas dengan perlakuan suhu dingin 14°C dan 17°C menunjukkan gerakan operkulum melambat. Selain itu, Mulyanti et al. (2018) juga menyatakan bahwa metabolisme hanya akan berjalan bila ada oksigen sebagai bahan pembakar makanan, sedangkan jika kadar oksigen semakin berkurang. Akibatnya ikan akan kekurangan energi untuk kegiatan metabolisme sehingga kemampuan untuk memompa air ke dalam insang juga berkurang. Keadaan ini yang menyebabkan bukaan operkulum ikan melambat secara drastis.


3.4 Mekanisme Suhu Mempengaruhi Bukaan Operkulum

Suhu merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap respirasi pada ikan karena perubahannya mempengaruhi kadar oksigen terlarut (DO) pada perairan. Menurut Siegers et al. (2019), kandungan oksigen terlarut (DO) di dalam perairan secara umum mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa DO mengalami perubahan karena dipengaruhi oleh suhu. Azwar et al. (2016) menyatakan bahwa suhu perairan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pengaturan seluruh proses kehidupan dan penyebaran organisme, dan proses metabolisme terjadi hanya dalam kisaran tertentu. Di laut suhu berpengaruh secara langsung pada laju proses fotosintesis dan proses fisiologi hewan (derajat metabolisme dan siklus reproduksi) yang selanjutnya berpengaruh terhadap cara makan dan pertumbuhannya pada biota laut.

Peningkatan suhu akan mengakibatkan penurunan kadar oksigen terlarut sehingga meningkatkan frekuensi bukaan operkulum pada ikan mas sebagai respons untuk memperoleh oksigen lebih banyak dalam respirasinya. Pernyataan ini didukung oleh Azwar et al. (2016) bahwa peningkatan suhu dapat mempengaruhi peningkatan laju respirasi yang dapat diamati dari perubahan pergerakan operkulum ikan. Menurut Firdaus et al. (2018) dalam Fajar (2021), suhu di atas kisaran normal membuat enzim dalam tubuh ikan bekerja cepat menyebabkan gerakan bukaan operkulum membuka dengan cepat untuk membantu insang dalam pengambilan oksigen yang terlarut dalam air aquarium supaya ikan tetap dapat melakukan respirasi.

Perubahan gerak operkulum ini diikuti dengan perilaku ikan yang kerap sering mengambil udara di permukaan air. Perubahan pergerakan ikan nila yang semula aktif bergerak menjadi lebih pasif (pendiam) berkorelasi dengan semakin tingginya suhu air, semakin tinggi suhu air semakin cepat terjadi perubahan gerak ikan menjadi pasif. Peningkatan temperatur air menyebabkan perubahan perilaku ikan nila berupa pergerakan pasif, menurunnya refleks, dan gerakan operkulum menjadi lebih cepat (Aliza et al., 2013). Pengaruh Kenaikan suhu air laut terhadap tingkah laku ikan yaitu ikan mulai bernafas dengan cepat yang ditandai dengan pergerakan operkulum ikan semakin cepat pergerakan ikan naik turun permukaan air dan pergerakan ikan mulai tidak seimbang, berenang miring dan menabrak dinding media pemeliharaan (Azwar et al., 2016).

Perubahan suhu juga terkadang menyebabkan stres pada ikan mas sehingga meningkatkan frekuensi bukaan operkulum. Menurut Mulyanti et al. (2018) hasil pengamatan tingkat stres Ikan menunjukkan bahwa rata-rata frekuensi bukaan operkulum ikan cenderung mengalami peningkatan. Ikan menggerakkan operkulum dengan lebih cepat sebagai respons fisiologis untuk mempertahankan konsentrasi oksigen di dalam tubuhnya. Saat ikan terpapar stres secara terus menerus sistem imun akan melemah dan ketahanan tubuh ikan terhadap penyakit menjadi berkurang (Mulyanti et al., 2018).

Penurunan suhu menyebabkan peningkatan kadar oksigen terlarut sehingga ikan mas tidak membutuhkan frekuensi bukaan operkulum yang tinggi untuk memperoleh oksigen bahkan umumnya mengalami penurunan. Selain itu, suhu dingin juga akan tetap berpengaruh terhadap metabolismenya. Pernyataan ini didukung oleh Ridwantara et al. (2019) dalam Fajar (2021) bahwa umumnya suhu yang dingin akan membuat enzim dalam tubuh makhluk hidup ataupun pada ikan yang termasuk hewan berdarah dingin akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sehingga bila suhu lingkungan turun akan memperlambat laju aktivitas enzim, metabolisme dan gerakan operkulum.


BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Suhu berpengaruh terhadap gerakan operkulum ikan mas. Perubahan suhu berbanding lurus pada perubahan gerakan operkulum ikan. Perlakuan suhu air yang tinggi menyebabkan gerakan operkulum pada ikan meningkat. Hal ini terjadi karena peningkatan suhu menyebabkan rendahnya kadar oksigen terlarut sehingga ikan mas meningkatkan frekuensi bukaan operkulumnya untuk memperoleh oksigen. Akan tetapi, dalam praktikum suhu tinggi mengalami penurunan gerakan operkulum diakibatkan stres yang dialami oleh ikan mas. Perlakuan pada suhu normal meskipun mengalami penurunan tidak menyebabkan perbedaan yang signifikan. Perlakuan pemberian suhu dingin menyebabkan penurunan frekuensi bukaan operkulum ikan karena suhu dingin menyebabkan peningkatan kadar oksigen terlarut dan penurunan metabolisme pada ikan mas.

4.2 Saran

Saran yang dapat diberikan berdasarkan praktikum yang telah dilakukan yaitu perhitungan gerakan operkulum ikan mas perlu dilakukan secara teliti agar data yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan. Selain itu, penanganan terhadap ikan mas juga perlu dilakukan dengan baik sebelum diberikan perlakuan agar ikan mas tidak mengalami stres berlebihan yang dapat berpengaruh terhadap validitas data hasil penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Aliza, D., Winaruddin, & Sipahutar, L. W. (2013). Efek peningkatan suhu air terhadap perubahan perilaku, patologi anatomi, dan histopatologi insang ikan nila (Oreochromis niloticus). Jurnal Medik Veterinaria, 7(2).

Azwar, M., Emiyarti, & Yusnaini. (2016). Critical thermal dari ikan Zebrasoma scopas yang berasal dari perairan Pulau Hoga Kabupaten Wakatobi. Sapa laut, 1(2).

Fajar, M. T. I. (2021). Pengaruh perubahan suhu terhadap tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio). Jurnal Penelitian, 5(1).

Golovanov, V. K. (2006). The ecological and evolutionary aspects of thermoregulation behavior on fish. Journal of ichthyology, 46.

Lestari, S. A., Septiwi, C., & Iswati, N. (2014). Pengaruh perawatan metode kanguru/kangaroo
mother care terhadap stabilitas suhu tubuh bayi berat lahir rendah di ruang peristi RSUD
Kebumen. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, 10(3).

Mulyanti, Y., Boesono, H., & Sardiyatmo. (2018). Analisis survival rate tawes (Barbonymus gonionotus) terhadap perbedaan salinitas sebagai alternatif umpan hidup pada penangkapan cakalang. Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology, 7(1).

Sahetapy, J. M. F. & Borut, R. R. (2018). Pengaruh perbedaan konsentrasi deterjen bubuk terhadap frekuensi bukaan operkulum dan kelangsungan hidup ikan mas (Cyprinus carpio). Jurnal TRITON, 14(1).

Siegers, W. H., Prayitno, Y., & Sari, A. (2019). Pengaruh kualitas air terhadap pertumbuhan ikan nila nirwana (Oreochromis sp.) pada tambak payau. The Journal of Fisheries Development, 3(2).

Yustina, & Darmadi. (2017). Buku ajar fisiologi hewan. Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau. Pekanbaru.

Tinggalkan komentar