Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Termoregulasi

Daftar Laporan Praktikum Fisiologi Hewan:

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Pemanfaatan Growth Hormone Pada Hewan Ternak dan Pengaruh Bagi Manusia

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Pengaruh Insektisida Terhadap Kerja Syaraf Serangga

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Sistem Kardiovaskuler

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Pengaruh Suhu Terhadap Gerakan Operkulum

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Sistem Endokrin

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Termoregulasi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suhu tubuh atau termoregulasi adalah keseimbangan antara kehilangan panas dan produksi panas tubuh yang tujuannya adalah untuk mengontrol lingkungan suhu netral dan meminimalkan energi (Lestari et al., 2014). Dengan mengacu pada suatu variabel lingkungan tertentu, organisme dapat dikelompokkan sebagai regulator (pengatur), yang mempertahankan lingkungan internal yang mendekati konstan di atas kisaran kondisi eksternal, atau konformer (penyesuai), yang membiarkan lingkungan internalnya bervariasi mengikuti variasi eksternal (Yustina dan Darmadi, 2017). Oleh karena itu, berdasarkan pengaturan suhu tubuh, organisme dibedakan menjadi thermoregulator dan thermoconformer.

Kemampuan dalam pengaturan termoregulasi ini hanya berlaku bagi hewan endotermik, khususnya mamalia dan unggas. Amfibia dan reptilia umunya adalah hewan ektotermik dengan laju metabolisme yang relatif rendah yang hanya sedikit berpengaruh pada suhu tubuh normal (Yustina dan Darmadi, 2017). Pentingnya kemampuan dalam pengaturan suhu tubuh seperti yang diutarakan oleh Lestari et al. (2014) yaitu untuk meminimalkan penggunaan energi. Meskipun begitu, hewan konformer memiliki mekanisme sendiri dalam mengatur suhu tubuhnya guna mempertahankan keberlangsungan hidunya, yaitu dengan adaptasi perilaku (Yustina dan Darmadi, 2017). Meskipun memiliki cara yang berbeda dalam pengaturan suhu tubuh, keduanya sama-sama bertujuan dalam mencapai kondisi seimbang guna menunjang kelangsungan hidupnya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Allah dalam surah Al-Mulk ayat 3 yang berbunyi:

Al-Quran surah Al-Mulk ayat 3 kardiovaskuler Pengaruh Suhu Terhadap Gerakan Operkulum termoregulasi

Artinya: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”

Ayat tersebut mengandung pengertian bahwa Allah Yang Maha Pemurah telah menciptakan sesuatu secara seimbang, tidak ada satu pun yang luput dari perhatian Allah sehingga menjadi tidak seimbang. Seperti pada pengaturan suhu tubuh hewan regulator mau pun konformer, keduanya berupaya dalam mencapai tujuan yaitu keseimbangan. Oleh karena itu, praktikum ini penting untuk dilakukan sehingga kita dapat memahami terkait dengan pengaturan dan perubahan suhu tubuh pada hewan serta diharapkan dengan adanya praktikum termoregulasi merupakan wujud kita dalam mengkaji dan mempelajari penciptaan-Nya serta dapat menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari praktikum ini yaitu bagaimanakah pengaruh suhu lingkungan terhadap suhu tubuh hewan kodok dan mencit?

1.3 Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini yaitu mengetahui pengaruh suhu lingkungan terhadap suhu tubuh hewan kodok dan mencit.


BAB II METODE PRAKTIKUM

2.1 Waktu dan Tempat

Penelitian dilaksanakan pada 5 November 2021 pukul 15.00 WIB-selesai via zoom meeting dan hibrid dengan tempat pengamatan berlokasi di Laboratorium Ekologi, Program Studi Biologi.

2.2 Alat dan Bahan

2.2.1 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:

  1. Akuarium (3 Buah)
  2. Termos air (3 Buah)
  3. Termometer (3 Buah)
  4. Alat tulis (1 Set)
  5. Kamera smartphone (1 Buah)

2.2.1 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:

  1. Kodok (Duttaphrynus sp.) (3 Ekor)
  2. Mencit (Mus musculus) (3 Ekor)
  3. Air panas (Secukupnya)
  4. Es batu (Secukupnya)
  5. Air kran (Secukupnya)

2.3 Langkah Kerja

Langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini yaitu:

  1. Disiapkan 3 kandang hewan dari bahan plastik, dibuat 3 variasi suhu lingkungan
    • Suhu lingkungan suhu kamar dengan menempatkan air di dalam wadah dan ditempatkan dalam kandang
    • Suhu lingkungan di bawah suhu kamar dengan menempatkan es batu dalam wadah dan ditempatkan dalam kandang, diukur suhu kandang, diusahakan suhu turun 3-4 °C dengan ditambah jumlah es batu.
    • Suhu lingkungan di atas suhu kamar dengan tempatkan air panas di dalam wadah dan ditempatkan dalam kandang, diusahakan suhu naik sekitar 3-4 °C (dapat juga dengan
      dijemur di bawah matahari)
  2. Diukur suhu lingkungan dalam kandang
  3. Disiapkan katak dan mencit, dimasukkan kedua hewan tersebut dalam kandang, didiamkan
    selama 10 menit pada kandang
  4. Setelah 10 menit, diukur suhu tubuh katak dan mencit serta suhu kandangnya
  5. Dibuat tabel hubungan antara suhu lingkungan dengan suhu tubuh hewan percobaan

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Berikut data hasil pengamatan yang telah dilakukan:

Perlakuan Suhu Lingkungan
Suhu Lingkungan (27°C)
Suhu Tubuh AwalSuhu Setelah 10 Menit
Duttaphrynus sp.26°C26°C
Mus musculus31°C25°C
Perlakuan di Suhu Panas (Air Panas)
Suhu Panas (37°C)
Suhu Tubuh AwalSuhu Setelah 10 Menit
Duttaphrynus sp.29°C33°C
Mus musculus33°C31°C
Perlakuan di Suhu Dingin (Air Es)
Suhu Dingin (20°C)
Suhu Tubuh AwalSuhu Setelah 10 Menit
Duttaphrynus sp.27°C23°C
Mus musculus33°C28°C

3.2 Pembahasan

Pengamatan Pada Kodok (Duttaphrynus sp.)

Berdasarkan data hasil pengamatan kodok (Duttaphrynus sp.) yang telah dilakukan selama sekitar 30 menit (10 menit pada tiap perlakuan), didapatkan bahwa pada perlakuan dengan suhu lingkungan 27°C dengan suhu tubuh awal kodok yaitu 26°C tidak terjadi perubahan pada suhu tubuh setelah diberi perlakukan, yaitu tetap sebesar 26°C, hal ini membuktikan bahwa pada suhu lingkungan, suhu tubuh kodok tidak mengalami perubahan. Perlakuan pada suhu panas sebesar 37°C menunjukkan terjadi perubahan pada suhu tubuh kodok. Suhu tubuh awal 29°C mengalami peningkatan setelah diberi perlakuan menjadi 33°C. Sedangkan, perlakuan pada suhu dingin sebesar 20°C menunjukkan terjadi perubahan pada suhu tubuh kodok. Suhu tubuh awal 27°C mengalami penurunan setelah diberi perlakuan menjadi 23°C.

Berdasarkan peningkatan dan penurunan yang terjadi pada suhu tubuh kodok setelah diberi perlakuan air panas dan air dingin, dapat dilihat bahwa kodok memiliki sifat termokonformer karena perubahan suhu lingkungan ikut mempengaruhi perubahan suhu tubuh kodok. Pernyataan ini seperti yang dikatakan Eckert, (2012) dalam Merta et al., (2016) bahwa kodok dan katak merupakan hewan berdarah dingin (poikiloterm), artinya memiliki suhu tubuh yang berubah sesuai dengan lingkungan. Kodok termasuk ke dalam ordo anura, menurut Tracy et al., (2010), banyak anura yang memiliki kulit yang sangat mudah dilalui air melalui mekanisme evaporasi, oleh karena itu, hal tersebut berdampak pada terbatasnya kemampuannya dalam meregulasi suhu tubuh.

Regulasi suhu tubuh kodok yang mengikuti suhu lingkungan menurut Merta et al., (2016) menyebabkan kodok melakukan adaptasi tingkah laku untuk menstabilkan suhu tubuh tidak bergantung pada metabolisme tubuh. Kodok merupakan vertebrata yang termasuk ke dalam kelas amphibi. Pada vertebrata ektoterm (ikan, amfibi dan reptil), regulasi dari suhu tubuh dipertahankan sebagian besar melalui cara-cara perilaku dengan memilih iklim mikro yang cocok (Mokhatla et al., 2019). Secara umum, amfibi, dengan aktivitasnya yang dominan pada malam hari, hubungan dekat dengan air, dan kulitnya yang lembab, yang membatasi beberapa kemungkinan termoregulasi, sehingga berpengaruh pada skala termokonformitas (Andrade, 2016).


Pengamatan Pada Mencit (Mus musculus)

Berdasarkan data hasil pengamatan mencit (Mus musculus) yang telah dilakukan selama sekitar 30 menit (10 menit pada tiap perlakuan), didapatkan bahwa pada perlakuan dengan suhu lingkungan 27°C dengan suhu tubuh awal mencit yaitu 31°C terjadi penurunan pada suhu tubuh setelah diberi perlakukan suhu lingkungan, yaitu menjadi 25°C, hal ini membuktikan bahwa pada suhu lingkungan suhu tubuh mencit mengalami perubahan. Perlakuan pada suhu panas sebesar 37°C menunjukkan terjadi perubahan pada suhu tubuh mencit. Suhu tubuh awal 33°C mengalami penurunan setelah diberi perlakuan menjadi 31°C. Sedangkan, perlakuan pada suhu dingin sebesar 20°C menunjukkan terjadi perubahan pada suhu tubuh mencit. Suhu tubuh awal 33°C mengalami penurunan setelah diberi perlakuan menjadi 28°C.

Berdasarkan perubahan yang terjadi pada suhu tubuh mencit setelah diberi perlakuan air panas dan air dingin, dapat dilihat bahwa mencit memiliki sifat termoregulator karena perubahan suhu lingkungan tidak ikut mempengaruhi perubahan suhu tubuh mencit secara signifikan. Pernyataan ini seperti yang dikatakan Eckert, (2012) dalam Merta et al., (2016) bahwa mencit termasuk hewan berdarah panas (homoioterm). Mencit dapat menjaga suhu tubuhnya tetap stabil meskipun terjadi fluktuasi suhu lingkungan. Ketika suhu lingkungan dingin, metabolisme meningkat sehingga suhu tubuh relatif hangat daripada lingkungan.

Hasil pengamatan pada suhu tubuh mencit menunjukkan suhu mencit yang selalu berada di bawah suhu normal (terjadi penurunan suhu pada tiap perlakuan), hal ini diduga disebabkan oleh stres yang dialami mencit selama penanganan. Menurut Rojas et al., (2021), penanganan pada hewan dapat menyebabkan hewan menjadi stres dan mempengaruhi suhu tubuh. stres akut dan kronis, reaksi ketakutan menjadi respons paling cepat yang ditunjukkan hewan terhadap rangsangan yang berpotensi berbahaya di lingkungan mereka. Penelitian telah menunjukkan bahwa ketika ancaman memicu reaksi ketakutan pada tikus, hewan-hewan ini mengalami berbagai perubahan kardiovaskular yang melibatkan penurunan perfusi darah di area seperti ekor dan tungkai, yang dianggap sebagai zona yang memiliki kapasitas lebih besar untuk menghilangkan panas dan dalam situasi yang mengancam.

Menurut Rojas et al., (2021), pada mamalia, mempertahankan suhu tubuh normal yang relatif konstan (37°C di sebagian besar spesies) sangat penting dalam mempertahankan fungsi sistem tubuh yang optimal dan proses kimia dan fisik yang terlibat. Suhu di atas 45°C dapat menyebabkan cedera otak fatal, sedangkan yang di bawah 27-29°C dapat menyebabkan fibrilasi jantung, progresif penurunan laju pernapasan, dan bahkan kematian.


Poikiloterm dan Homokioterm

Berdasarkan kemampuannya dalam meregulasi suhu tubuh, organisme dikelompokkan menjadi poikiloterm dan homokioterm. Pernyataan ini sesuai dengan Yustina dan Darmadi (2017) dengan mengacu pada suatu variabel lingkungan tertentu, organisme dapat dikelompokkan sebagai regulator (pengatur), yang mempertahankan lingkungan internal yang mendekati konstan di atas kisaran kondisi eksternal, atau konformer (penyesuai), yang membiarkan lingkungan internalnya bervariasi mengikuti variasi eksternal.

Berdasarkan organisme model yang telah diteliti (kodok dan mencit), kodok merupakan hewan berdarah dingin (poikiloterm), artinya memiliki suhu tubuh yang berubah sesuai dengan lingkungan. Beda dengan mencit termasuk hewan berdarah panas (homoioterm). Mencit dapat menjaga suhu tubuhnya tetap stabil meskipun terjadi fluktuasi suhu lingkungan. Ketika suhu lingkungan dingin, metabolism meningkat sehingga suhu tubuh relatif hangat daripada lingkungan (Eckert, 2012 dalam Merta et al., 2016).

Hewan berdarah dingin (poikiloterm) di antaranya yaitu avertebrata, dan sebagian vertebrata (amphibi, reptile, dan pisces). Menurut Taylor et al., (2020) sebagai ektoterm, reptil dan amfibi sensitif terhadap efek suhu lingkungan, terutama mengingat bahwa lingkungan mereka (dan dengan demikian, suhu tubuh) biasanya mengalami fluktuasi termal yang dramatis setiap hari, musiman, dan stokastik. Dengan demikian, plastisitas perilaku dan kemampuan untuk bergerak mencari habitat yang sesuai secara termal adalah strategi penting yang digunakan untuk menyangga fluktuasi iklim.

Seperti halnya organisme ektotermik, suhu tubuh amfibi dan reptil sangat bergantung pada kondisi termal ambient yang lazim, yang dieksplorasi terutama melalui penyesuaian perilaku. Laju metabolisme amfibi dan reptil jauh lebih rendah daripada vertebrata endotermik berukuran serupa. Seperti halnya organisme ektotermik lainnya, metabolisme amfibi dan reptil biasanya meningkat dengan suhu tubuh untuk kisaran suhu dalam batas toleransi termal mereka. Di luar batas tersebut, erosi fungsional akan terjadi dan mengganggu hubungan antara fungsi fisiologis dan suhu. Dalam batas toleransi termal, metabolisme amfibi dan reptil akan meningkat dengan suhu, sering kali secara linier (Andrade, 2016).

Amfibia dan reptilia umunya adalah hewan ektotermik dengan laju metabolisme yang relatif rendah yang hanya sedikit berpengaruh pada suhu tubuh normal. Kisaran suhu optimum bagi amfibia sangat bervariasi seiring dengan variasi spesies. Amfibia menghasilkan panas sangat sedikit, dan sebagian besar dari mereka kehilangan panas dengan sangat cepat melalui evaporasi dari permukaan tubuhnya, sehingga hewan tersebut sangat sulit untuk mengontrol suhu tubuh. Akan tetapi, adaptasi perilaku memungkinkan amfibia untuk mempertahankan suhu tubuhnya di dalam suatu kisaran yang memuaskan selama sebagian besar waktu, misalnya dengan cara berpindah ke lokasi di mana panas matahari tersedia atau ke dalam air. Ketika sekelilingnya terlalu panas, hewan akan mencari lingkungan yang lebih sejuk, seperti daerah teduh. Beberapa amfibia seperti bullfrog, dapat memvariasikan jumlah mukus yang disekresikan dari permukaannya, yang merupakan suatu respons fisiologis yang mengatur pendinginan melalui evaporasi (Yustina dan Darmadi, 2017).

Menurut Yustina dan Darmadi (2017), reptilia menghangatkan tubuh terutama dengan cara adaptasi perilaku. Reptilia mencari-cari tempat hangat, mengarahkan diri ke arah sumber panas untuk meningkatkan pengambilan panas dan memperluas permukaan tubuh yang terpapar ke sumber panas. Akan tetapi, reptilia tidak hanya sekedar memaksimalkan pengambilan panas; reptilia berperilaku agar benar-benar dapat mengatur suhu tubuhnya di dalam suatu kisaran tertentu. Sebagai contoh, jika cahaya matahari terlalu hangat, seekor kadal akan duduk secara bergantian di bawah matahari dan di bawah naungan atau membalik tubuh ke arah lain, sehingga mengurangi luas permukaan yang terpapar matahari. Dengan mencari tempat yang sesuai, banyak reptilia mempertahankan suhu tubuh yang sangat stabil.


Poikiloterm meskipun bergantung pada suhu lingkungan, tetapi sebenarnya masih menghasilkan panas secara internal. Menurut Andrade, (2016) kesalahpahaman yang relatif sering tentang atribut organisme ektotermik adalah keyakinan salah bahwa mereka tidak menghasilkan panas. Dengan kata lain, hanya endoterm sejati yang mampu melakukan termogenesis. Faktanya, selama organisme hidup dan energi diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya, sebagian energi ini akan hilang sebagai panas. Oleh karena itu, amfibi dan reptil menghasilkan panas sepanjang waktu, tetapi karena tingkat metabolisme mereka biasanya lebih rendah daripada endotermik, jumlah panas yang diturunkan secara metabolik, dalam banyak kasus, dapat diabaikan untuk pengaturan suhu tubuh mereka. Artinya, dalam kondisi biasa, suhu tubuh amfibi dan reptil adalah sebagian besar ditentukan oleh ketersediaan relung termal di lingkungan.

Hewan berdarah panas (homokioterm) meliputi vertebrata yaitu mamalia dan aves. Pada organisme homokioterm menurut Dewi et al., (2020) mekanisme termoregulasi terjadi dengan mengatur keseimbangan antara perolehan panas dengan pelepasan panas. Kondisi yang tidak mendukung memaksa organisme homokioterm untuk mengaktifkan mekanisme termoregulasi, yaitu peningkatan suhu rektal, suhu kulit, frekuensi pernafasan dan denyut jantung (Qisthon dan Suharyati, 2007). Pada mamalia, termoregulasi adalah kunci dalam pemeliharaan homeostasis yang memastikan berfungsinya organisme secara optimal. Kapasitas termoregulasi sangat terkait dengan keseimbangan energi dan hewan terus berusaha untuk membatasi pengeluaran energi normotermia (Terrien et al., 2011). Penelitian menunjukkan mengontrol suhu tubuh sangat penting untuk bertahan hidup. Dalam kondisi di mana mekanisme termoregulasi tidak dapat menormalkan kembali suhu tubuh, individu akan menderita stres termal (Rojas et al., 2021).

Menurut Rojas et al., (2021) mamalia memiliki dua jenis mekanisme termoregulasi yaitu: fisiologis (atau refleks) dan perilaku. Mekanisme umum termoregulasi fisiologis pada mamalia. Proses ini dimulai ketika termoreseptor organisme di kulit mendeteksi perubahan suhu, baik lingkungan maupun internal. Setelah mendeteksi suhu baru, termoreseptor tersebut mengirimkan sinyal melalui serabut saraf aferen ke kornu dorsalis medula spinalis, di mana neuron sensorik yang peka terhadap panas/dingin diaktifkan. Neuron ini, pada gilirannya, mengirimkan respons yang terdiri dari impuls saraf yang dikirim ke nukleus parabrachial lateral (LPB). Ini memicu reaksi di area preoptik (POA) hipotalamus (struktur yang dianggap bertanggung jawab atas termoregulasi pada mamalia) khususnya, inti preoptik median (MnPO). Setelah itu, respons pertahanan dingin atau panas dimulai melalui jalur eferen.

Termoregulasi perilaku, sebaliknya, tergantung pada keinginan tiap individu. Salah satu perilaku termoregulasi paling dasar terdiri dari mencari habitat dingin atau panas yang memungkinkan organisme mengubah laju kehilangan atau perolehan panasnya. Sebaliknya, perilaku termoregulasi yang paling kompleks termasuk membuat sarang atau liang, perilaku sosial seperti berkerumun dengan orang sejenis dan masih banyak lagi (Rojas et al., 2021).

Mekanisme dalam menghindari terjadinya hipotermia yaitu penurunan bersamaan dalam pembuangan panas dan peningkatan produksi panas. Sebaliknya, pertukaran panas ditingkatkan dan produksi panas tubuh berkurang saat menghindari hipertermia. Selain itu, terdapat perbedaan strategi perilaku pada beberapa spesies mamalia untuk mengatasi penurunan dan peningkatan tingkat suhu lingkungan. Selain itu, fungsi termoregulasi berada di bawah kendali pusat, metabolisme, energetik dan sistem endokrin, yang mana menginduksi beberapa parameter seperti jam, musim, jenis kelamin atau penuaan mungkin dapat mempengaruhi penyesuaian termoregulasi (Terrien et al., 2011).

Perilaku termoregulasi dibagi menjadi dua, yaitu yang dilakukan untuk mencegah hipotermia dan yang dilakukan untuk mencegah hipertermia. Yang pertama mencakup strategi untuk menghemat panas tubuh, seperti melakukan postur tubuh tertentu (posisi seperti bola) atau berjemur di bawah matahari, dan membangun sarang, berkerumun, dan berbagi sarang. Perilaku lain meningkatkan pembentukan panas, misalnya, meningkatkan aktivitas lokomotor dan asupan energi. Perilaku untuk mencegah hipertermia, sebaliknya, didasarkan pada strategi yang menghilangkan panas, seperti mencari dingin, mencari naungan, melakukan postur tertentu (terpajan angin, posisi tengkurap/ekstensi tubuh, menempel di bebatuan), dan terengahengah. Selanjutnya, tindakan yang menurunkan produksi panas, termasuk menurunkan asupan energi dan aktivitas lokomotor (Rojas et al., 2021).


BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Kodok merupakan hewan berdarah dingin (poikiloterm), artinya memiliki suhu tubuh yang berubah sesuai dengan lingkungan. Beda dengan mencit termasuk hewan berdarah panas (homoioterm). Mencit dapat menjaga suhu tubuhnya tetap stabil meskipun terjadi fluktuasi suhu lingkungan. Ketika suhu lingkungan dingin, metabolisme meningkat sehingga suhu tubuh relatif hangat daripada lingkungan.

Suhu lingkungan berpengaruh terhadap suhu tubuh pada kodok, yaitu perubahan suhu lingkungan sejalan dengan perubahan suhu tubuh kodok. Semakin tingi suhu lingkungan maka suhu tubuh kodok juga akan semakin tinggi, begitu pun sebaliknya, semakin rendah suhu lingkungan maka suhu tubuh kodok juga akan semakin rendah. Sedangkan, hubungan antara suhu lingkungan dengan suhu tubuh mencit yaitu berbanding terbalik dengan mempertahankan agar tetap berada dalam kisaran normal. Semakin tinggi suhu lingkungan maka mekanisme termoregulasi akan berusaha untuk menurunkan suhu internal tubuh. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah suhu lingkungan maka mekanisme termoregulasi akan berusaha meningkatkan suhu internal tubuh namun tetap dalam kisaran normal. Dalam praktikum ini, suhu tubuh mencit selalu menunjukkan penurunan, hal tersebut diduga dipengaruhi oleh stres yang dialami mencit selama penanganan.

4.2 Saran

Pengukuran suhu tubuh pada hewan coba menggunakan termometer perlu dipastikan agar cairan dalam termometer berhenti dengan sempurna terlebih dahulu sebelum dilakukan pengukuran. Sehingga, nilai pengukuran yang diperoleh sesuai dengan yang seharusnya.

DAFTAR PUSTAKA

De Andrade, D. V. (2016). Temperature effects on the metabolism of amphibians and reptiles: Caveats and recommendations. Amphibian and Reptile Adaptations to the Environment. Taylor & Francis.

Dewi, N. L. P. G. P., Yuni, L. P. E. K., & Suaskara, I. B. M. (2020). Aktivitas harian kadal Eutropis multifasciata pada habitat kebun di dataran rendah di Desa Peguyangan, Denpasar – Bali. Jurnal Biologi Udayana, 24(2).

Lestari, S. A., Septiwi, C., & Iswati, N. (2014). Pengaruh perawatan metode kanguru/kangaroo mother care terhadap stabilitas suhu tubuh bayi berat lahir rendah di ruang peristi RSUD Kebumen. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, 10(3).

Merta, I. W., Syachruddin, A. R., Bachtiar, I., & Kusmiyati. (2016). Perbandingan antara frekwensi denyut jantung katak (Rana sp.) dengan frekwensi denyut jantung mencit (Mus musculus) berdasarkan ruang jantung. Biota, 1(3).

Mokhatla, M., Measey, J., & Smit, B. (2019). The role of ambient temperature and body mass on body temperature, standard metabolic rate and evaporative water loss in southern African anurans of different habitat specialisation . PeerJ, 7. https://doi.org/10.7717/peerj.7885

Mota-Rojas, D., Titto, C. G., Orihuela, A., Martínez-Burnes, J., Gómez-Prado, J., TorresBernal, F., Flores-Padilla, K., Carvajal-de la Fuente, V., & Wang, D. (2021). Physiological and behavioral mechanisms of thermoregulation in mammals. Animals, 11(6).

Qisthon, A., & Suharyati, S. (2007). Pengaruh naungan terhadap respons termoregulasi dan produktivitas kambing peranakan ettawa. Majalah Ilmiah Peternakan, 10(1).

Taylor, E. N., Diele‐Viegas, L. M., Gangloff, E. J., Hall, J. M., Halpern, B., Massey, M. D., Rödder, D., Rollilnson, N., Spears, S., Sun, B-j., & Telemeco, R. S. (2020). The thermal ecology and physiology of reptiles and amphibians: A user’s guide. Journal of Experimental Zoology Part A: Ecological and Integrative Physiology.

Terrien, J., Aujard, F., & Perret, M. (2011). Behavioral thermoregulation in mammals: A review. Front Biosci (Landmark Ed), 16(4).

Tracy, C. R., Christian, K. A., & Tracy, C. R. (2010). Not just small, wet, and cold: effects of body size and skin resistance on thermoregulation and arboreality of frogs. Ecology, 91(5).

Yustina, & Darmadi. (2017). Buku Ajar Fisiologi Hewan. Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau. Pekanbaru.

Tinggalkan komentar