Laporan Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan II Epidermis dan Derivatnya

TRANSKRIP DOKUMEN ADA DI BAWAH VIEWER! ATAU KLIK KE TRANSKRIP

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Epidermis merupakan kumpulan sel yang seragam dan berada pada bagian terluar (Witono, 2003). Epidermis merupakan lapisan sel-sel paling luar dan menutupi permukaan daun, bunga, buah, biji, batang dan akar (Sari & Herkules, 2017). Pada epidermis sering kali terdapat derivat epidermis yang berperan dalam menunjang fungsi epidermis, seperti stomata, trikoma, sel kipas, litokis dan sebagainya. Sebagai bagian terluar dari jaringan, epidermis berfungsi sebagai pelindung bagian dalam organ tumbuhan (Sari & Herkules, 2017). Fungsi epidermis sebagai pelindung bagian dalam organ tumbuhan ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya fungsi epidermis sebagai pertahanan pertama dari segala ancaman yang dapat menyebabkan gangguan maupun kematian pada tumbuhan. Baik epidermis maupun tiap-tiap turunan epidermis memiliki peran masing-masing dalam menjalankan fungsinya bagi kelangsungan hidup tumbuhan.

Hal ini selaras dengan ayat Al-Quran pada surah Al-Qomar ayat 49 yang berbunyi:

Al-qomar ayat 49

Artinya : Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.

Ayat di atas menunjukkan bahwa tiap-tiap ciptaan Allah telah di atur sesuai dengan peruntukannya masing-masing, tidaklah berlebih maupun kekurangan. Seperti halnya, bagian-bagian pada tumbuhan. Jaringan epidermis memiliki struktur yang menunjang fungsinya dalam melindungi jaringan di dalamnya, begitu juga dengan derivatnya sebagai bentuk spesialisasi dari jaringan epidermis agar dapat menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya.

Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk dilakukan sehingga kita dapat mengetahui struktur dan fungsi epidermis dan derivatnya serta diharapkan dengan dilakukannya penelitian ini akan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita terhadap Allah S.W.T. yang telah menciptakan semesta dan isinya dengan sempurna dan sesuai dengan peruntukannya.


1.2 Tujuan Penelitian

  1. Mengamati penampang melintang dan membujur bentuk sel penyusun epidermis.
  2. Mengamati macam-macam bentuk sel penutup stomata berdasarkan penampang membujurnya.
  3. Mengamati berbagai tipe stomata pada daun.
  4. Mengamati berbagi macam bentuk trikomata.
  5. Mengamati derivat epidermis yang lain selain stomata dan trikomata misalnya; sel-sel silica, sel-sel kipas dan litokis serta sel gabus.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Jaringan Epidermis

Epidermis adalah lapisan paling luar pada alat-alat tumbuhan seperti akar, batang, daun, bunga, buah dan biji. Bentuk, ukuran dan susunan sel epidermis berbeda-beda pada berbagai jenis tumbuhan dan organnya, tetapi semuanya menunjukkan tanda sama yaitu rapat satu sama lain membentuk bangunan padat tanpa ruang antar sel (Trisiwanti & Sugimin, 2020). Sel epidermis memiliki struktur yang kompak (padat) dengan dinding sel yang kadang kala menebal karena mengandung silika, sehingga memperkuat helaian daun. Pada umumnya dalam jaringan epidermis juga dijumpai rambut-rambut, stomata, dan sel spesifik lainnya (Witono, 2003).

Berdasarkan ontogeninya, epidermis berasal dari jaringan meristematik yaitu protoderm. Epidermis berfungsi sebagai pelindung bagian dalam organ tumbuhan. Berdasarkan fungsinya, epidermis dapat berkembang dan mengalami modifikasi seperti stomata dan trikomata (Sari & Herkules, 2017).


2.2 Derivat Epidermis

Derivat epidermis adalah bentuk spesifik atau struktur tambahan pada epidermis yang memiliki fungsi tertentu. Trikoma dan stomata merupakan derivat epidermis. (Hidayat, 1995, dalam Fajri, 2013). Derivat epidermis dapat berupa sel kipas, epidermis ganda dan litosis. Sel kipas, litosis dan epidermis ganda ditemukan pada tumbuhan monokotil dan sebagian kecil tumbuhan dikotil, sedangkan trikoma dan stomata ditemukan pada sebagian besar tumbuhan yang memiliki klorofil (Sumardi, 1992, dalam Fajri, 2013).

Stomata adalah salah satu organ tumbuhan yang digunakan untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Fungsi utama stomata adalah sebagai tempat pertukaran gas, seperti CO2 yang diperlukan oleh tumbuhan dalam proses fotosintesis. Namun, stomata juga bertindak sebagai salah satu jalur masuknya polutan khususnya polutan yang berasal dari udara. Polutan seperti timbal yang memiliki ukuran partikel kurang dari 2 µm dapat masuk melalui stomata yang memiliki ukuran lebih besar (Ebadi et al., 2005, dalam Sulistiana & Setijorini, 2016).

Trikoma adalah modifikasi dari epidermis dengan berbagai bentuk, struktur dan fungsi. Trikoma berfungsi mengurangi laju transpirasi saat tanaman kekurangan air dan melindungi tanaman dari herbivora, patogen serta tempat tersimpannya metabolit sekunder (Agren & Schemske, 1994, dalam Ambardini, Indrawati, & Ratnaeni, 2015). Sel kipas merupakan sederet sel yang lebih besar daripada sel epidermis lainnya, berdinding tipis, bervakuola besar dan berisi air. Fungsi sel kipas sendiri adalah melindungi jaringan di bawahnya agar tidak mengalami kerusakan akibat kehilangan air yang lebih besar serta membuka dan menutupnya daun dalam proses penggulungan daun (Zou et al. 2011, dalam Ai dan Lenak, 2014).

Litokis merupakan sel yang mengandung sistolit. Litosis terpadat pada erpidermis daun beringin (Ficus sp.) berupa penebalan ke arah sentripetal yang tersusun atas tangkai selulosa dengan deposisi Ca-karbonat (kalsium karbonat) yang membentuk bangunan seperti sarang lebah yang disebut sistolit. Velamen merupakan lapisan sel mati di bagian dalam jaringan epidermis pada akar gantung (akar udara) tumbuhan anggrek dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan air. Sel silica/sel gabus merupakan sel epidermis seperti serat pada pteridophita tertentu, gymnospermae, dan beberapa gramineae, dan dicotyledonae tertentu. Pada Gramineae diantara sel epidermis batang ada yang panjang ada 2 tipe sel pendek, yaitu sel silika dan sel gabus (Anjani, 2014).


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:

  1. Mikroskop cahaya
  2. Gelas benda dan penutup
  3. kuas
  4. Pinset kecil
  5. Jarum preparat
  6. Pipet tetes
  7. Silet
  8. Kobokan
  9. Lap

3.1.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:

  1. Air
  2. Daun Rhoeo discolor
  3. Preparat awetan Zea mays (jagung)
  4. Daun Canna indica
  5. Daun Terong (Solanum melongena)
  6. Daun Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis)
  7. Daun Waru (Hibiscus tiliaceus)
  8. Preparat aweten irisan melintang daun Ficus elastica (ki karet)

3.2 Langkah Kerja

Langkah-langkah yang dilakukan dalam praktikum ini yaitu:

  1. Diambil preparat awetan irisan melintang daun Cymbopogon nordus (sere) atau Oryza sativa (padi) diamati di bawah mikroskop. Dicari epidermis atas atau bawah dengan perbesaran 10 x 10, jika kurang besar pergunakan perbesaran 10 x 45, kemudian digambar dan beri keterangan. Dapatkah Anda menunjukkan stomata?
  2. Diambil preparat awetan irisan melintang daun Ficus elastica dan diamati di bawah mikroskop. Perhatikan litosit dan sistolit dengan menggunakan perbesaran 10 x 10, jika kurang jelas maka pergunakan perbesaran 10 x 45. Diperhatikan lapisan 1-4 mulai dari luar! Apakah mempunyai bentuk dan ukuran yang sama? Pada lapisan sel itu ada satu sampai beberapa sel yang mempunyai ukuran lebih besar dari yang lain dan di dalamnya ada bentukan seperti sarang lebah. Digambarlah terutama lapisan sel 1-4 tersebut. Sel yang lebih besar tadi dinamakan litosit dan bentukan seperti sarang lebah itu dinamakan sistolit, digambar juga litosit dan sistolit !
  3. Diambil daun Rhoeo discolor, dibuat preparat sayatan daun seperti kegiatan 2. Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10. Diperhatikan stomata dan trikomatanya. Digambar bagaimana bentuk sel penutupnya! Jika kurang jelas maka digunakan perbesaran 10 x 45. Digambar dan diberi keterangan!
  4. Diambil daun Canna indica (bunga kana), dibuat preparat sayatan daun seperti kegiatan 2. Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10. Diperhatikan stomata dan trikomatanya. Digambar bagaimana bentuk sel penutupnya! Jika kurang jelas maka digunakan perbesaran 10 x 45. Digambar dan diberi keterangan!
  5. Diambil daun Solanum melongena (terong), dibuat preparat sayatan daun seperti kegiatan 2. Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10. Diperhatikan stomata dan trikomatanya. Digambar bagaimana bentuk sel penutupnya! Jika kurang jelas maka pergunakan perbesaran 10 x 45. Digambar dan diberi keterangan!
  6. Diambil daun Hibiscus rosasinensis (bunga sepatu), dibuat preparat sayatan daun seperti kegiatan 2. Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10. Diperhatikan stomata dan trikomatanya. Digambar bagaimana bentuk sel penutupnya! Jika kurang jelas maka digunakan perbesaran 10 x 45. Digmbar dan diberi keterangan!
  7. Diambil daun Hibiscus tiliaceuss (waru), dibuat preparat sayatan daun seperti kegiatan 2. Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10. Diperhatikan adanya trikomata!. Digambar bagaimana bentuk trikomata! Jika kurang jelas maka digunakan perbesaran 10 x 45. Digambar dan diberi keterangan!

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Rhoeo discolor

4.1.1 Hasil pengamatan

Hasil pengamatan terhadap derivat epidermis daun Rhoeo discolor yaitu:

epidermis rhoeo discolor

4.1.2 Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Rhizophorales
Famili : Rhizophoraceae
Genus : Rhoeo
Spesies : Rhoeo discolor
(Dalimartha, 2003, dalam Kandowangko, 2011)

4.1.3 Pembahasan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap daun Rhoeo discolor pada perbesaran 400 kali, terlihat stomata pada epidermis daun. Stomata yang diamati berupa celah sempit yang diapit oleh dua sel yang disebut sel penjaga atau sel penutup. Pada masing masing sel penjaga dikelilingi oleh sel epidermis yang disebut dengan sel tetangga. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa ada beberapa bentuk khusus (derivat) epidermis. Diantaranya adalah stoma yang berarti lubang. Diantara sel-sel epidermis terdapat celah (porus) kecil yang diapit oleh dua sel berbentuk khusus yang berbeda dengan sel epidermis lainnya. Kedua sel berbentuk khusus itu disebut sel penutup (guard cellls). Kedua sel penutup bersama-sama celah atau lubangnya disebut stoma (Trisiwanti & Sugimin, 2020).

Stomata pada epidermis daun Rhoeo discolor memiliki dua sel penjaga atau sel penutup yang sejajar dengan sel tetangganya. Oleh karena itu, jenis stomata pada daun Rhoeo discolor adalah jenis parasitik. Menurut Haryanti (2010), Parasitik/Rubiaceous yaitu tiap sel penjaga bergabung dengan satu atau lebih sel tetangga, sumbu membujurnya sejajar dengan sumbu sel tetangga dan apertur, terdapat pada Rubiaceae dan Magnoliaceae. Stomata berfungsi dalam mengatur pertukaran gas antara tanaman dan sekitarnya. Pembukaan dan penutupan celah stomata salah satunya dipengaruhi oleh tekanan turgor sel penjaga yang fungsi utamanya yaitu mempertahankan air dan keseimbangan karbon dioksida (Suyitno, Al, & Ratnawati, 2004 dalam Khoiroh, Harijati, & Mastuti, 2014).

Selain itu, stomata membuka disebabkan sel penjaga mengambil air dan menggembung. Sesuatu yang mendorong sel penjaga untuk mengambil air sehingga stomata terbuka adalah tekanan osmotik dari sel penjaga (Salisbury & Ross, 1995 dalam Khoiroh, Harijati, & Mastuti, 2014). Tipe stomata juga mempengaruhi terjadinya proses transpirasi ataupun proses keluar masuknya gas ataupun air dari lingkungan ke dalam sel (Khoiroh, Harijati, & Mastuti, 2014).


4.2 Ficus elastica

4.2.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan terhadap derivat epidermis daun Ficus elastica yaitu:

epidermis ficus elastica

4.2.2 Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Division : Tracheophyta
Class : Magnoliopsida
Order : Rosales
Family : Moraceae
Genus : Ficus
Spesies : Ficus elastica
(Ginting, 2020)

4.2.3 Pembahasan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada daun Ficus elestica dengan perbesaran 400 kali, ditemukan struktur pada epidermis yang membentuk penebalan yang disebut dengan litokis. Di dalamnya mengandung struktur gumpalan yang bergantung berbentuk seperti sarang lebah yang disebut dengan sistolit. Hal ini didukung oleh pernyataan bahwa Litokis merupakan sel yang mengandung sistolit. Litosis terdapat pada epidermis daun beringin (Ficus sp.) berupa penebalan ke arah sentripetal yang tersusun atas tangkai selulosa dengan deposisi Ca-karbonat (kalsium karbonat) yang membentuk bangunan seperti sarang lebah yang disebut sistolit (Anjani, 2014).

Sistolit yang terdiri dari kalsium karbonat biasanya terletak di litokis. Litokis dapat ditemukan dalam bentuk papilla atau terlihat seperti rambut dan sebagian besar terjadi di lapisan epidermis daun (Hani & Noraini, 2013). Perkembangan sistolit dimulai saat dinding sel dan tumbuh menuju bagian dalam sel (Gal et al., 2012). Sistolit berfungsi sebagai penghambur cahaya internal pada daun sehingga mampu mendistribusikan fluks cahaya secara lebih merata di dalam daun (Gal, Blumfeld et al., 2012, dalam Gal et al., 2012).


4.3 Zea mays

4.3.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan terhadap derivat epidermis Zea mays yaitu:

4.3.2 Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Cyperales
Famili : Poaceae
Suku : Andropogoneae
Genus : Zea
Species : Zea mays
(Shah et al., 2016)

4.3.3 Pembahasan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada epidermis daun Zea mays dengan perbesaran 400 kali, ditemukan struktur berupa sel berderet yang tampak lebih besar dibandingkan dengan sel epidermis lainnya, struktur ini disebut dengan sel kipas/Bulliform cells. Hal ini didukung dengan pernyataan bahwa tumbuhan rumput-rumputan dan banyak monokotil lain mempunyai epidermis daun yang mempunyai sel-sel dengan bentuk khusus yang disebut sel-sel kipas atau bulliform cells atau motor cells. Sel-sel ini lebih besar daripada sel epidermis normal dengan dinding tipis dan vakuola besar. Sel-sel kipas ini tersusun berderet di seluruh permukaan atas daun atau hanya pada di antara alur-alur berkas pengangkut. Pada irisan melintang bentuknya seperti kipas dengan sel yang paling besar berada di tengah (Trisiwanti & Sugimin, 2020).

Sel kipas ini mengandung banyak air, tanpa atau hampir tidak mengandung kloroplas dan hanya mempunyai sedikit atau bahkan tidak ada kutikula. Oleh sebab itu sel ini akan kehilangan air melalui transpirasi lebih cepat daripada sel epidermis lainnya. Saat terjadi kekurangan air, tekanan turgor pada sel ini menurun dan memungkinkan daun menggulung ke dalam (Salisbury & Ross 1992; Kurniasih & Wulandhany 2009, dalam Ai & Lenak, 2014). Fungsi sel kipas sendiri adalah melindungi jaringan di bawahnya agar tidak mengalami kerusakan akibat kehilangan air yang lebih besar serta membuka dan menutupnya daun dalam proses penggulungan daun (Zou et al. 2011, dalam Ai & Lenak, 2014).


4.4 Hibiscus rosa-sinensis

4.4.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan terhadap derivat epidermis daun Hibiscus rosa-sinensis yaitu:

epidermis

4.4.2 Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus rosa sinensis L.
(Chintiayusuf, 2019)

4.4.3 Pembahasan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada epidermis daun Hibiscus rosa sinensis dengan perbesaran 100 kali, ditemukan adanya struktur derivat epidermis berupa trikoma dan stomata. Trikoma yang ditemukan pada daun Hibiscus rosa sinensis memiliki bentuk menyerupai bintang tanpa ditemukan adanya struktur berupa kelenjar (non-glandular). Pernyataan ini didukung oleh penelitian Jasiem et al. (2019) bahwa hasil uji mikroskop menunjukkan bahwa bentuk trikoma adalah bintang (stellate). Serta penelitian Hidayat (2013) bahwa H. rosa-sinensis mempunyai tipe trikoma yang sama pada kedua permukaan epidermis daunnya, yaitu tipe trikoma non glandular. Trikoma non glandular umumnya dikenal sebagai sel-sel yang tidak menghasilkan sekret yang berfungsi sebagai pelindung fisik dengan melindungi tanaman dari kerusakan akibat serangga, mengurangi atau menjaga suhu daun, dan mencegah penguapan (Parker et al., 2014).

Selain trikoma, pada epidermis daun Hibiscus rosa sinensis dengan perbesaran 100 kali juga dapat ditemukan derivat epidermis lain yaitu stomata. Pada perbesaran ini, stomata yang terlihat tidak cukup jelas sehingga cukup sulit untuk menentukan tipe stomata pada Hibiscus rosa sinensis. Akan tetapi, berdasarkan pengamatan pada gambar literatur, stomata pada Hibiscus rosa sinensis memiliki tipe Anisositik. Pernyataan ini didukung oleh penelitian (Hidayat, 2013) bahwa pada species H. acetocella mempunyai tipe stomata yang sama pada bagian abaxial dan adaxial epidermis daun yaitu anisositik. dimana setiap sel penutup dikelilingi oleh tiga buah sel tetangga yang ukurannya tidak sama besar (Fahn, 1995). Begitu juga tipe stomata yang ditemukan pada bagian abaksial H. rosa-sinensis L., sedangkan pada bagian adaksial tidak ditemukan stomata.


4.5 Hibiscus tiliaceus

4.5.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan terhadap derivat epidermis daun Hibiscus tiliaceus yaitu:

epidermis hibiscus tiliaceus

4.5.2 Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Familia : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus tiliaceus L.
(Hairiani et al., 2018)

4.5.3 Pembahasan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada sampel yang diambil dari permukaan daun Hibiscus tiliaceus dan diamati dengan perbesaran 100 kali, ditemukan adanya rambut-rambut halus yang merupakan salah satu derivat epidermis yaitu trikoma. Trikoma yang ditemukan pada permukaan daun Hibiscus tiliaceus memiliki bentuk menyerupai bintang atau bercabang banyak tanpa terlihat adanya kelenjar (non-glandular).

Pernyataan ini didukung oleh penelitian Hidayat (2013) bahwa Adapun tipe trikoma yang dimiliki H. tiliaceus yaitu trikoma non-glandular dengan tipe bintang.  Trikoma non-glandular berfungsi sebagai pelindung fisik tanaman terhadap tekanan biotik dan abiotik, membentuk penghalang mekanis terhadap kelembaban rendah, intensitas cahaya tinggi dan suhu tinggi, serta aktivitas makan serangga dan oviposisi serangga (Tozin et al., 2016).


4.6 Solanum melongena

4.6.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan terhadap derivat epidermis daun Solanum melongena yaitu:

epidermis solanum melongena

4.6.2 Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Genus : Solanum
Spesies : Solanum melongena L.
(USDA, dalam Sahetapy, 2012)

4.6.3 Pembahasan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada struktur permukaan daun Solanum melongena dengan perbesaran 100 kali, ditemukan adanya rambut-rambut halus yang merupakan salah satu derivat epidermis yaitu trikoma. Trikoma yang ditemukan pada permukaan daun Solanum melongena memiliki bentuk menyerupai bintang atau bercabang banyak tanpa terlihat adanya kelenjar (non-glandular). Pernyataan ini diperkuat dengan hasil penelitian Dewi, Hindun, dan Wahyuni (2015) bahwa Spesies Solanum melongena atau biasa disebut tanaman terong ini memiliki jenis trikoma non glandular berbentuk stellata dengan banyak lengan pada daunnya, dimana rata-rata terdiri dari 7-8 lengan.

Trikoma glandular adalah struktur multiseluler terspesialisasi yang memiliki kemampuan untuk mensintesis dan mensekresikan metabolit sekunder serta melindungi tanaman dari tekanan biotik dan abiotik (Liu et al., 2017). Sedangkan Trikoma non-glandular berfungsi sebagai pelindung fisik tanaman terhadap tekanan biotik dan abiotik, membentuk penghalang mekanis terhadap kelembaban rendah, intensitas cahaya tinggi dan suhu tinggi, serta aktivitas makan serangga dan oviposisi serangga (Tozin et al., 2016).


4.7 Dendrobium sp.

4.7.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan terhadap derivat epidermis Dendrobium sp yaitu:

epidermis dendrobium sp

4.7.2 Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Devisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Orchidales
Suku : Epidendreae
Genus : Dendrodium
(Yubu et al., 2018)

4.7.3 Pembahasan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada derivat epidermis Dendrodium sp dengan perbesaran 400 kali, ditemukan adanya struktur berupa velamen pada bagian epidermis. Pernyataan ini sesuai dengan pernyataan bahwa Velamen merupakan lapisan sel mati di bagian dalam jaringan epidermis pada akar gantung (akar udara) tumbuhan anggrek (Anjani, 2014).

Velamen pada Dendrodium sp membentuk struktur yang serupa dengan epidermis lainnya hanya saja terdiri atas berlapis-lapis sel yang cukup tebal. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sari (2017) bahwa akar anggrek mempunyai velamen yang terdiri dari beberapa lapis sel yang berongga dan transparan serta merupakan lapisan pelindung pada sistem saluran akar. Velamen berfungsi melindungi akar dari kehilangan air dalam proses transpirasi. Akar anggrek terutama yang epifit, diselubungi velamen, yaitu lapisan sel berdaging yang berperan dalam penyerapan dan penyimpanan air (Arditti, 1992, dalam Sugiyarto, Ummiyatie, & Henuhili, 2016).


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada beberapa spesies tanaman, dapat disimpulkan bahwa epidermis merupakan jaringan terluar pada tumbuhan yang berfungsi dalam proteksi maupun transportasi. Epidermis seringkali mengalami spesialisasi membentuk turunan yang disebut dengan derivat epidermis yang memiliki fungsinya masing-masing. Derivat epidermis diantaranya yaitu stomata, sel kipas, trikoma, litokis, velamen dan sebagainya.

Stomata pada spesies tanaman yang diamati memiliki perbedaan jenis atau tipe stomata, yaitu parasitik pada tanaman Rhoeo discolor dan anisositik pada Hibiscus rosa sinensis. Sedangkan pada trikoma, ditemukan jenis atau tipe trikomata yang sama yaitu berbentuk bintang (stellate) yang memiliki banyak cabang serta tidak memiliki kelenjar (non-glandular) seperti pada spesies tanaman Hibiscus tiliaceus, Hibiscus rosa sinensis dan Solanum melongena. Sedangkan sel kipas dapat ditemukan pada Zea mays, litokis pada Ficus elastica serta velamen pada Dendrodium sp.

DAFTAR PUSTAKA

Ai, N. S., & Lenak, A. A. (2014). Penggulungan daun pada tanaman monokotil saat kekurangan air. Bioslogos, 4(2).

Ambardini, S., Indrawati, & Ratnaeni. (2015). Karakter trikoma daun tanaman jati (Tectona grandis l.) yang ditanam pada tanah pascatambang emas bombana dengan variasi dosis pupuk kandang kambing. Biowallacae, 2(1).

Anjani, M. T. (2014). Laporan individu praktik pengalaman lapangan (PPL).

Bagi, S. (2016). Anatomical study of some characters in certain species of genus Ficus L. growing in Iraq. Journal of Biology, Agriculture, and Healthcare, 6(12)..

Chintiayusuf, L. (2019). Uji Daya Hambat Ekstrak Daun Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Propionibacterium acnes [Skripsi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara].


Dewi, V. P., Hindun, I., & Wahyuni, S. (2015). Studi trikoma daun pada famili Solanaceae sebagai sumber belajar biologi. Pendidikan Biologi Indonesia, 1(2).

dos Santos Tozin, L. R., de Melo Silva, S. C., & Rodrigues, T. M. (2016). Non-glandular trichomes in Lamiaceae and Verbenaceae species: morphological and histochemical features indicate more than physical protection. New Zealand Journal of Botany, 54(4).

Fajri, L. (2013). Tipe trikoma dan stomata pada beberapa species hyptis (labiatae). Eksakta, 1.

Gal, A., Hirsch, A., Siegel, S., Li, C., Arichmayer, B., Politi, Y., Fratzl, P., Weiner, S., & Addadi, L. (2012). Plant cystoliths: A complex functional Biocomposite of four distinct silica and amorphous calcium carbonate phases. Chemistry – A European Journal, 18(33).

Ginting, C. N. 2020. Daun Karet Manfaat Bagi Kesehatan. Medan: Unpri press.

Hairiani, Supramono, & Winarti A. (2018). Spesies pohon di pesisir Pantai Tabanio, Kalimantan Selatan. Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah, 3(1).

Haryanti, S. (2010). Jumlah dan distribusi stomata pada daun beberapa spesies tanaman dikotil dan monokotil. Buletin Anatomi Dan Fisiologi, 18(2).

Hidayat, Z. (2013). Tipe trikoma dan stomata pada daun beberapa species Hibiscus (Malvaceae). Eksakta, 1.

Jasiem, T. M., Nasser, N. M., Baderden, S. K., & Hasan, H. A. (2019). Pharmacognostical and phytochemical studies of Iraqi Hibiscus rosa-sinensis. AIP Conference Proceedings, 2144.

Juarez, M. T., Twigg, R. W., & Timmermans, M. C. P. (2004). Specification of adaxial cell fate during maize leaf development. Development. 131(18).

Kandowangko, N. Y., Solang, M., & Ahmad, J. (2011). Kajian etnobotani tanaman obat oleh masyarakat Kabupaten Bonebolango Provinsi Gorontalo. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan IPA Universitas Negeri Gorontalo.

Khairani, N. (2020). Identifikasi Tipe Stomata Pada Tumbuhan Angiospermae Di Kampus UIN AR-Raniry Sebagai Referensi Praktikum Anatomi Tumbuhan [Skripsi, UIN AR-Raniry].

Khoiroh, Y., Harijati, N., & Mastuti, R. (2014). Pertumbuhan serta kerapatan stomata dan berat umbi pada Amorphophallus muelleri blume dan Amorphophallus variabilis blume. Biotropika, 2(5).

Liu, Y., Liu, D., Hu, R., Hua, C., Ali, I., Zhang, A., Liu, B., Wu, M., Huang, L., & Gan, Y. (2017). AtGIS, a C2H2 zinc-finger transcription factor from Arabidopsis regulates glandular trichome development through GA signaling in tobacco. Biochemical and Biophysical Research Communications, 483(1).

Nickrent, D. L. (2013). Leaf, epidermal peel, partially stained with TBO showing branched, multicellular, stellate trichome, stomatal complex, anomocytic [Online image]. PhytoImages.

Parker, M. T., Zhao, P., Dai, X., Wang, S., & Zhong, Y. (2014). Comparative genomic and transcriptomic analysis of terpene synthases in Arabidopsis and Medicago. IET Systems Biology, 8(4).

Sahetapy, M. (2012). Respon terung (Solanum melongena L.) terhadap perlakuan dosis pupuk herbafarm. Jurnal Ilmiah Unklab, 16(1).

Sari, D. (2017). Identifikasi orchid mycorrhiza pada akar anggrek Cattleya Sp Dan Dendrobium Sp. [Skripsi, Universitas Islam Negeri Raden Intan].

Sari, W. D. P., & Herkules. (2017). Analisis struktur stomata pada daun beberapa tumbuhan hidrofit sebagai materi bahan ajar mata kuliah anatomi tumbuhan. Biosains, 3(3).

Shah, R. T., Prasad, K., & Kumar, P. (2016). Maize—A potential source of human nutrition and health: A review. Cogent Food & Agriculture, 2(1).

Sulistiana, S., & Setijorini, L. E. (2016). Akumulasi timbal (pb) dan struktur stomata daun puring (Codiaeum variegatum Lam. Blume). Agrosains Dan Teknologi, 1(2).

Trisiwanti, & Sugimin. (2020). Efektivitas teknik clearing daun untuk pengamatan karakteristik mikromarfologi. Indonesian Journal Of  Laboratory, 2(3).

Ummu-Hani, B., & Noraini, T. (2013). The structure of cystoliths in selected taxa of the genus Ficus L. (Moraceace) in Peninsular Malaysia. AIP Conference Proceedings, 1571.

Yubu, A., Pollo, H. N., & Lasut, M. T. (2018). Inventariasasi anggrek hutan di Taman Wisata Alam Batuputih, Kota Bitung, Sulawesi Selatan. Eugenia, 24(3).

Witono, J. R. (2003). Struktur Epidermis Daun Pinanga coronata (Blume ex Mart.) Blume (Palmae) di Jawa dan Bali. Biodiversitas, 4(2).

Tinggalkan komentar