Laporan Praktikum Mikrobiologi Umum Media Pertumbuhan Mikroba Teknik Aseptis dan Sterilisasi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tidak hanya dikenal karena sifat patogennya, mikroba juga telah lama dikenal karena memegang peranan penting dalam berbagai bidang kehidupan. Menurut Kumar (dalam Farida, 2019), aplikasi bioteknologi sangat beragam yang meliputi berbagai aspek yaitu pada bidang pangan, pertanian, peternakan, kesehatan, dan pengobatan. Aplikasi bioteknologi banyak menggunakan bantuan mikroorganisme. Mikroorganisme merupakan makhluk hidup yang memiliki ukuran yang sangat kecil.

Pemanfaatan mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan mikroba lain ini kemudian tidak terlepas dari upaya untuk membiakkannya. Akan tetapi, dalam membiakkan mikroba perlu diperhatikan juga faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga mikroba yang diinginkan dapat tumbuh. Beberapa upaya yang perlu diperhatikan dalam menumbuhkan mikroba yaitu pembuatan media pertumbuhan mikroba, teknik aseptis pada meja kerja dan tangan serta sterilisasi alat kerja menggunakan autoklaf. Oleh karena itu, pentingnya mengetahui prosedur-prosedur dalam menunjang pertumbuhan mikroba inilah yang menjadi latar belakang saya dalam melakukan praktikum ini.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam praktikum ini yaitu:

  1. Bagaimanakah cara pembuatan media?
  2. Apa sajakah macam-macam teknis sterilisasi?
  3. Bagaimana prinsip kerja autoklaf sebagai alat untuk sterilisasi?

1.3 Tujuan

Tujuan dalam praktikum ini yaitu:

  1. Mempelajari cara pembuatan media
  2. Mempelajari macam-macam teknik sterilisasi
  3. Mengetahui prinsip kerja autoklaf sebagai alat untuk sterilisasi

1.4 Manfaat

Manfaat dilakukannya praktikum ini yaitu:

  1. Menambah wawasan dan pemahaman terkait dengan pembuatan media
  2. Menambah wawasan dan pemahaman terkait dengan macam-macam teknik sterilisasi
  3. Menambah wawasan dan pemahaman terkait dengan prinsip kerja autoklaf sebagai alat untuk sterilisas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Media

2.1.1 Pengertian Media

Media adalah sebuah substansi yang komposisinya terdiri dan nutrisi tertentu yang diperlukan untuk menumbuhkan dan mempelajari sifat-sifat bakteri (Sutarma, 2000). Media selain untuk menumbuhkan mikroba juga dibutuhkan untuk isolasi & inokulasi mikroba serta untuk uji fisiologi dan biokimia mikroba (Yusmaniar, Wardiyah & Nida, 2017). Beberapa jenis bakteri dapat hidup baik pada media yang sangat sederhana, yang hanya mengandung garam anorganik ditambah sumber karbon organik seperti gula, namun ada pula bakteri yang memerlukan suatu media yang sangat kompleks selain mengandung sumber karbon dan nitrogen juga perlu penambahan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya, namun yang terpenting media harus mengandung nutrisi yang merupakan substansi dengan berat molekul rendah dan mudah larut dalam air (Supriatin & Rahayyu, 2016).


Komposisi nutrisi media yang komplit mengandung sumber karbon, nitrogen, belerang, fosfat, logam mikro, vitamin, penyubur, NaCl dan air. Kristal violet, brilian green, bile salt, natrium selenit, antibiotik dan anti jamur (fungizon) adalah bahan penghambat/pembunuh bakteri/jamur yang tak diinginkan pada waktu isolasi yang sering ditambahkan ke dalam media (Sutarma, 2000).

2.1.2 Macam-Macam Media

Berdasarkan bentuknya menurut Yusmaniar, Wardiyah, dan Nida (2017) media dibedakan menjadi:

  1. Media padat
    Mengandung komposisi agar sebesar 15 %.Media padat digunakan untuk mempelajari
    koloni kuman, untuk isolasi dan untuk memperoleh biakan murni. Contoh media padat
    Nutrient Agar (NA); Potato Detrose Agar (PDA); Plate Count Agar (PCA), dan lain-lain
  2. Media semi padat
    Adalah media yang mengandung agar sebesar 0.5 %
  3. Media Cair
    Media cair digunakan untuk pembenihan diperkaya sebelum disebar ke media padat, tidak
    cocok untuk isolasi mikroba dan tidak dapat dipakai untuk mempelajari koloni kuman.
    Contoh media cair Nutrient broth (NB); Pepton dilution fluid (PDF); Lactose Broth (LB);
    Mac Conkey Broth (MCB), dan lain-lain. Berdasarkan fungsinya, media dapat dibedakan
    menjadi:
  4. Media umum
    Media umum (universal media), merupakan media dengan bahan yang dapat dipakai untuk
    pertumbuhan kelompok mikroorganisme, contoh nutrien agar untuk pertumbuhan bakteri,
    PDA (Potato Dextrosa Agar) untuk pertumbuhan jamur (Har, 2015).
  5. Media selektif
    Media selektif adalah media yang ditambahkan zat-zat tertentu yang bersifat selektif untuk
    mencegah pertumbuhan mikroba lain (Wijaya, Fernando, & Lembar, 2019)..
  6. Media diferensial
    Media diferensial adalah media yang digunakan untuk membedakan organisme satu
    dengan yang lainnya, melalui identifikasi karakteristik yang khas, seperti warna atau
    kandungan kimia (Wijaya, Fernando, & Lembar, 2019)..
  7. Media pengaya
    Media pengaya adalah media yang ditambahkan zat-zat tertentu (serum, darah, ekstrak
    tumbuhan), sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba tertentu yang
    membutuhkan senyawa organik untuk pertumbuhan (Wijaya, Fernando, & Lembar, 2019).

2.2 Sterilisasi

2.2.1 Pengertian Sterilisasi

Sterilisasi adalah suatu cara untuk membebaskan alat ataupun bahan dari segala bentuk kehidupan terutama mikroorganisme. Dalam praktikum mikrobiologi sterilisasi dapat dilakukan secara fisik dan kimia, pemilihan cara sterilisasi tergantung pada jenis bahan yang akan disterilkan ataupun bentuk bahan/sediaan yang akan disterilkan (Yusmaniar, Wardiyah & Nida, 2017).

2.2.2 Macam-Macam Sterilisasi

Menurut Lestari, Deswiniyanti, Astarini, dan Arpiwi (2019), sterilisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara di antaranya yaitu:

  1. Sterilisasi secara fisik (pemanasan, menggunakan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). Dengan udara panas, dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan temperatur 170°-180°C dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas).
  2. Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan alkohol, dan larutan formalin).
  3. Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya adalah dengan saringan /filter. Sistem kerja filter, seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikelpartikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba).

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Mikrobiologi Umum dengan judul “Media Pertumbuhan Mikroba, Teknik Aseptis dan Sterilisasi” ini dilaksanakan pada hari Senin, 16 November 2020 pada pukul 18.00 WIB. Praktikum dilaksanakan secara online di Jalan H.M. Thaib, Kabupaten Berau melalui media whatsapp.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

3.2.1.1 Pembuatan Media

Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan media yaitu timbangan untuk menimbang media yang akan digunakan , gelas ukur 500 ml untuk mengukur akuades, labu erlenmeyer 500 ml dan 1000 ml sebagai wadah pembuatan media, tabung reaksi sebagai wadah untuk meletakkan media, kaca pengaduk untuk mengaduk campuran media, autoklaf untuk mensterilisasi alat dan bahan, kompor pemanas untuk menghomogenkan media.

3.2.1.2 Teknik Aseptis Meja Kerja dan Tangan (sterilisasi secara kimia)

Alat-alat yang digunakan dalam teknik aseptis meja kerja dan tangan yaitu botol semprot sebagai wadah alkohol 70% dan kertas tisu/kain lap bersih untuk membersihkan meja.

3.2.1.3 Sterilisasi Menggunakan Autoklaf (sterilisasi secara fisika)

Alat-alat yang digunakan dalam sterilisasi menggunakan autoklaf yaitu cawan petri dan alat gelas lain yang akan disterilisasi, autoklaf untuk mensterilisasi alat, dan karet gelang untuk mengikat alat gelas dan media yang sudah dibungkus.


3.2.2 Bahan

3.2.2.1 Pembuatan Media

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan media yaitu akuades sebagai pelarut media, kapas dan kain kasa untuk menutup mulut gelas yang berisi media, benang atau tali untuk mengikat media yang sudah dibungkus dan alkohol 70% untuk mensterilisasi alat dan bahan.

3.2.2.2 Teknik Aseptis Meja Kerja dan Tangan (sterilisasi secara kimia)

Bahan-bahan yang digunakan dalam teknik aseptis meja kerja dan tangan yaitu alkohol 70% untuk mensterilisasi tangan dan meja kerja.

3.2.2.3 Sterilisasi Menggunakan Autoklaf (sterilisasi secara fisika)

Bahan-bahan yang digunakan dalam sterilisasi menggunakan autoklaf yaitu media yang akan disterilisasi, kertas HVS untuk membungkus alat gelas, plastik tahan panas untuk membungkus alat gelas, dan Aluminium foil untuk membungkus alat gelas dan media.

3.3 Cara Kerja

3.3.1 Pembuatan media

3.3.1.1 Media NA dan NB Manual

Langkah-langkah dalam pembuatan media NA dan NB manual diawali dengan dicuci bersih daging sapi, dibuang bagian lemak jika masih ada, diiris daging dengan ukuran 1×1 cm2. Jika sudah, dimasukkan dalam beaker glass atau wadah dan ditambah akuades sebanyak 500 ml kemudian direbus atau dimasak daging selama 25 menit atau sampai daging lunak (dijaga agar volume air tetap, jika berkurang ditambahkan akuades), disaring rebusan daging sehingga diperoleh air kaldu. Setelah itu, dicampurkan dengan pepton, agar dan akuades hingga volume akhir 1000 ml (pada pembuatan NB, tidak perlu ditambahkan agar).


Setelah dicampurkan, dipanaskan kembali campuran kaldu, pepton dan agar, diaduk hingga homogen dan tunggu sampai mendidih, dinginkan pada suhu ruang, dicek Ph medium menggunakan Ph meter dan atur pada Ph 7,7. Dimasukkan medium ke dalam tabung reaksi masing-masing 10 ml untuk media tegak dan 5-7 ml untuk media miring, ditutup tabung berisi medium dengan kapas yang telah dibungkus kain kasa. Terakhir, disterilkan dengan autoklaf. Media tegak biarkan tabung dalam keadaan berdiri dan untuk media miring tabung miringkan dengan catatan media tidak sampai menyentuh tutup tabung.

3.3.1.2 Media NA dan NB Instan

Cara kerja dalam pembuatan media NA dan NB instan yaitu diawali dengan ditimbang media sesuai kebutuhan (penghitungan jumlah mengacu pada takaran yang tertera pada kemasan), dilarutkan 20 gram bubuk atau serbuk NA/NB instan ke dalam 1000 ml akuades, diaduk hingga serbuk larut, dipanaskan di atas penangas ditunggu hingga mendidih (larutan terlihat jernih) kemudian dinginkan dan dituang pada cawan petri maupun tabung reaksi serta disterilisasi dengan autoklaf.

3.3.1.3 Media PDA Manual

Cara kerja dalam pembuatan media PDA manual diawali dengan dikupas kentang lalu dibersihkan, dipotong bentuk dadu berukuran 1×1 cm2 kemudian ditimbang hingga diperoleh 200g kentang. Setelah itu, dipotong kentang dimasak dalam 500 ml akuades dan dibiarkan mendidih, dijaga agar volume tetap (ditambahkan akuades jika menyusut), kemudian disaring ekstrak kentang dan ambil filtratnya, ditambahkan dekstrose dan agar-agar serta akuades hingga volume akhir 1000 ml diaduk hingga homogen, lalu dipanaskan pada api sedang sambil diaduk hingga homogen atau mendidih, setelah dihomogenkan, dimasukkan pada tabung reaksi masing-masing 10 ml untuk media tegak dan 5-7 ml untuk media miring, ditutup tabung berisi medium dengan kapas yang telah dibungkus kain kasa, disterilkan dengan autoklaf. Setelah disterilkan, untuk media tegak biarkan tabung dalam keadaan berdiri dan untuk media miring tabung miringkan dengan catatan media tidak sampai menyentuh tutup tabung.


3.3.1.4 Media PDA Instan

Cara kerja dalam pembuatan media PDA instan yaitu diawali dengan ditimbang media sesuai kebutuhan (penghitungan jumlah mengacu pada ukuran yang tertera di kemasan 39 (g/l), dilarutkan serbuk PDA instan ke dalam 1000 ml akuades, kemudian diaduk hingga serbuk larut, dipanaskan di atas penangas ditunggu hingga mendidih (larutan terlihat jernih), setelah itu dinginkan dan dituang pada cawan petri maupun tabung reaksi serta disterilisasi dengan autoklaf.

3.3.2 Sterilisasi Kimia

Cara kerja dalam sterilisasi kimia, teknik aseptis meja kerja dan tangan yaitu sebelum mulai bekerja dicuci tangan dengan menggunakan air dan dikeringkan, disemprotkan alkohol 70% pada bagian telapak dan punggung tangan, dikeringkan. Setelah itu, dibersihkan meja yang akan digunakan dari barang atau alat yang tidak dipergunakan, disemprotkan alkohol 70% pada permukaan meja kerja, kemudian dibersihkan sisa semprotan alkohol menggunakan kertas tisu bersih dengan arah yang sama atau searah.

3.3.3 Sterilisasi Fisika

Cara kerja dalam sterilisasi fisika menggunakan autoklaf yaitu diawali dengan dibungkus cawan petri dengan kertas HVS kemudian dimasukkan ke dalam plastik tahan panas. Alat gelas yang lain dibungkus menggunakan aluminium foil dan atau plastik tahan panas, setelahnya diisi autoklaf dengan akuades setinggi batas sarangan, dimasukkan alat dan bahan 9 (media) yang akan disterilisasi, diatur suhu sebesar 121℃, dengan tekanan 1 atm dan diatur waktu yang akan digunakan sampai pada angka 15-20 menit.

Setelah autoklaf diatur, ditutup autoklaf dan dipastikan dalam kondisi terpasang rapat. dipastikan lubang uap dalam keadaan tertutup (exhaust close), ditarik tuas power ke arah on, lalu ditekan tombol on (push) untuk memulai sterilisasi, apabila lampu hijau menyala maka dapat dipastikan autoklaf dalam keadaan bekerja, setelah alarm berbunyi maka ditarik tuas power hingga ke titik off kemudian dibuka lubang uap dengan cara diputar ke arah open. Setelah itu, diamkan autoklaf selama 15 menit sehingga dapat dipastikan bahwa uap telah keluar dan autoklaf dalam keadaan tidak panas. Terakhir, dibuka tutup autoklaf dan dikeluarkan alat-alat yang telah steril.


BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Cara pembuatan media NA dan PDA

Dalam pembuatan media NA dan PDA, hal pertama yang perlu dilakukan yaitu menyiapkan alat-alat dan bahan yang diperlukan. Untuk mendapatkan takaran yang sesuai maka natrium agar dan potato dextrose agar terlebih dahulu ditimbang menggunakan timbangan digital. Dalam pembuatan media NA, takaran NA yang diperlukan dalam praktikum ini yaitu sebanyak 2,3 gram. Setelah ditimbang, tuang akuades sebanyak 100 ml ke dalam gelas ukur, lalu tuang media NA ke dalam gelas erlenmeyer diikuti dengan akuades. Setelah dituang, tutup gelas erlenmayer menggunakan aluminium foil. Untuk mengenali media yang dibuat, beri label media NA dengan format nama dan tanggal pembuatan media. Setelah itu, masukkan magnetic stirrer bar ke dalam media dan ditutup kembali, letakkan media di atas hot plate untuk menghomogenkan media dengan suhu dan kecepatan tertentu.

Pernyataan ini didukung oleh Oxoid (dalam Juariah dan Sari, 2018) medium NA dibuat dengan cara timbang media NA 2,8 gr dan larutkan dalam 100 ml akuades kemudian panaskan di atas hot plate hingga homogen, kemudian sterilkan pada autoklaf suhu 121℃ selama 1 jam guna menghindari tumbuhnya mikroorganisme yang tidak diinginkan. Setelah sterilisasi, media dapat dituang secara aseptis pada cawan petri steril untuk penggunaan.

Berbeda dengan medium NA, dalam pembuatan media PDA takaran PDA instan yang dibutuhkan yaitu sebanyak 3,9 gram. Setelah PDA instan ditimbang, tuang akuades sebanyak 100 ml ke dalam gelas ukur, lalu tuang PDA ke dalam gelas erlenmeyer diikuti dengan akuades. Setelah dituang, tutup gelas erlenmeyer menggunakan aluminium foil. Setelah dituang, tutup gelas erlenmeyer menggunakan aluminium foil. Untuk mengenali media yang dibuat, beri label media PDA dengan format nama dan tanggal pembuatan media. Setelah itu, masukkan magnetic stirrer bar ke dalam media dan ditutup kembali, letakkan media di atas hot plate untuk menghomogenkan media dengan suhu dan kecepatan tertentu.


Pernyataan ini didukung oleh 3,9 gram media PDA dilarutkan dalam 100 mL akuades dengan cara dipanaskan di atas hot plate hingga larut yang ditandai dengan media menjadi bening. Media yang telah ditutup dengan sumbat, disterilkan menggunakan autoclave dengan suhu 121℃ selama 15 menit. Ditunggu hingga hangat kuku dan media dituang ke dalam cawan petri steril (Khusnul, 2019).

4.2 Macam-macam teknik sterilisasi

Teknik sterilisasi yang digunakan dalam praktikum ini yaitu sterilisasi secara kimia dan sterilisasi secara fisika. Sterilisasi kimia yaitu berupa teknik aseptis meja kerja dan tangan menggunakan alkohol 70%. Teknik sterilisasi ini dilakukan dengan terlebih dahulu pastikan tangan telah menggunakan glove, lalu semprotkan alkohol pada telapak tangan. Alkohol 70% juga disemprotkan pada meja kerja dan dibersihkan menggunakan tisu bersih dengan arah yang sama.

Teknik sterilisasi secara kimia ini sesuai dengan pernyataan bahwa sterilisasi secara kimiawi Biasanya menggunakan senyawa desinfektan, antara lain alkohol. Apabila akan bekerja di atas meja maka persiapan yang harus dilakukan sebelum bekerja secara aseptis adalah mensterilkan tempat bekerja (meja). Caranya dengan menyemprotkan alkohol 70% di permukaan meja dan udara di sekitar meja secara merata. Kemudian bersihkan meja dengan menggunakan kapas/tisu dengan cara digosok satu arah saja. kemudian semprot kedua tangan hingga merata, diamkan hingga kering, dan siap bekerja secara aseptis (Putri, Sukini, & Yadong, 2017).

Teknik sterilisasi secara fisika dilakukan dengan menggunakan autoklaf. Hal ini sesuai dengan pernyataan sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan uap air panas bertekanan menggunakan autoklaf (Putri,Sukini & Yadong, 2017). Sebelum dimasukkan ke dalam autoklaf,  media dan alat-alat yang akan disterilisasi dibungkus oleh kertas HVS terlebih dahulu. Hal ini didukung oleh pernyataan media yang telah ditutup dengan sumbat, disterilkan menggunakan autoklaf (Khusnul, 2019).


Sterilisasi menggunakan autoklaf, terlebih dahulu buka penutup autoklaf, masukkan akuades sampai batas sarangan. Setelah itu, masukkan alat dan media yang akan disterilisasi ke dalam autoklaf. Tutup rapat autoklaf dan pasangan kabel autoklaf ke sumber listrik (stop kontak). Tutup lubang uap dan tarik tuas ke arah On. Tekan tombol On dan pastikan lampu hijau pada autoklaf menyala. Setelah sterilisasi selesai, matikan autoklaf . Sterilisasi selesai ditandai dengan alarm pada autoklaf berbunyi.

Pernyataan ini didukung oleh cara penggunaan autoklaf yaitu buka penutup autoklaf dengan memutar stir ke arah kiri, tutup saluran uap dan tempat keluarnya uap kemudian isi wadah air dengan 2 liter akuades atau air kran biasa. Masukkan alat/bahan yang akan disterilisasi ke dalam keranjang kemudian letakkan keranjang di atas wadah air, tutup penutup autoklaf dengan memutar strir ke arah kanan, putar tombol temperatur pada suhu 121℃ dan putar pengatur waktu ( timer) di 15 menit. Tekan tombol stir ke arah kiri maka lampu hijau akan menyala. 1 menit menjelang berakhirnya proses sterilisasi setiap alat akan berbunyi dan lampu hijau mati. Tekan tombol off ke arah tegak lurus, buka saluran uap sampai suhu dan tekanan yang ditunjukkan oleh jarum pada skala berada di titik 0 kemudian buka penutup autoklaf (Putri,Sukini & Yadong, 2017).

4.3 Prinsip kerja autoklaf

Autoklaf merupakan alat yang digunakan dalam sterilisasi fisika.  prinsip kerja dari alat ini menggunakan uap panas. Pernyataan ini sesuai dengan autoklaf adalah bejana tertutup dan bertekanan tinggi. Alat ini beroperasi dengan menggunakan uap di bawah tekanan sebagai agen sterilisasi. Tekanan tinggi tersebut membuat uap tersebut memiliki suhu tinggi, sehingga meningkatkan kandungan panas uap tersebut dan meningkatkan kemampuan sterilisasi (Oyawale & Olaoye, 2007).


Suhu yang digunakan sekitar 121℃ dan tekanan 1 atm (15 psi) selama kurang lebih 15 menit. Hal ini sesuai dengan pernyataan autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang menggunakan tekanan 15 psi (1 atm) dan suhu 121℃. Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas (Putri,Sukini & Yadong, 2017).

Uap panas pada autoklaf dihasilkan dari akuades yang dipanaskan menggunakan sumber panas pada autoklaf. uap panas ini kemudian akan tertahan pada tabung yang tertutup  dan dipastikan lubang uap pada autoklaf telah tertutup rapat. Apabila uap panas telah memenuhi tabung autoklaf maka proses sterilisasi akan dimulai. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi autoklaf. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai, maka proses sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur (Putri,Sukini & Yadong, 2017).

Setelah sterilisasi selesai, maka pastikan tekanan pada autoklaf turun hingga mencapai 0 psi terlebih dahulu dan diamkan beberapa saat sebelum dibuka untuk memastikan uap telah keluar dan autoklaf tidak panas. Hal ini sesuai dengan pernyataan. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai 0 psi (Putri,Sukini & Yadong, 2017). Fase terakhir dari siklus ini yaitu pemulihan tekanan ruang sterilisasi ke tekanan atmosfer normal (Laneve et al., 2019).


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Media NA dan PDA instan dibuat dengan terlebih dahulu menimbang sebanyak jumlah media instan yang dibutuhkan, media instan yang digunakan sebanyak 2,3 gram media NA dan 3,9 gram media PDA bubuk instan dicampurkan dengan 100 ml akuades pada gelas erlenmeyer, kemudian ditutup dan dihomogenkan menggunakan hot plate. Teknik sterilisasi yang dilakukan yaitu sterilisasi secara kimia dan sterilisasi secara fisika. Sterilisasi secara kimia dilakukan dalam teknik aseptis meja kerja dan tangan menggunakan alkohol 70%. Sterilisasi secara fisika dilakukan dengan pemanasan menggunakan autoklaf.

Autoklaf merupakan alat sterilisasi fisika yang menggunakan uap panas dalam membunuh mikroorganisme pada alat kerja dan bahan praktikum. Suhu yang digunakan yaitu  sekitar 121℃ dan tekanan 1 atm (15 psi) selama kurang lebih 15 menit. Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai, maka proses sterilisasi dimulai.

5.2 Saran

Dalam praktikum ini, perlu ketelitian dalam menimbang media instan agar didapatkan komposisi yang sesuai dengan perhitungan media instan yang akan digunakan. Pada teknik aseptis meja kerja, pastikan pengelapan berjalan dengan arah yang sama. Selain itu, perlu kehati-hatian dalam sterilisasi menggunakan autoklaf. Setelah sterilisasi selesai, penutup autoklaf jangan langsung dibuka, diamkan autoklaf beberapa saat terlebih dahulu sampai tidak panas.


Daftar Pustaka

Farida, H.D., & Sari, S. K. (2019). Pemanfaatan mikroorganisme dalam pengembangan makanan halal berbasis bioteknologi. Journal Of Halal Product And Research, 2(1).

Harti, A. S. (2015). Mikrobiologi Kesehatan: Peran Mikrobiologi Dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Khusnul. (2019). Pengoptimuman pertumbuhan jamur tiram asal Tasikmalaya pada beberapa medium alternatif dari air rebusan umbi-umbian. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada, 19(2).

Laneve, E., Raddato, B., Dioguardi, M., Gioia, G. D., Troiano, T., & Muzio, L. L. (2019). Sterilisation in dentistry: A review of the literature. International Journal of Dentistry, 2019.

Lestari, N. K. D., Deswiniyanti, N. W., Astarini, I. A., & Arpiwi, N. L. (2019). Bioteknologi In Vitro Lili. Sleman: Deepublish.

Oyawale, F.A., & Olaoye, A.E. (2007). Design and construction of an autoclave. The Pacific Journal of Science and Technology, 8(2).

Putri, M. H., Sukini, & Yadong. (2017). Mikrobiologi. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Supriatin, Y., & Rahayyu, M. (2016). Modification of Carry-Blair transport media for storage Salmonella typhi. Jurnal Teknologi Laboratorium, 5(2).

Sutarma. (2000). Kultur media bakteri. Temu Teknis Fungsional non Peneliti 2000. Bogor: Balai Penelitian Veteriner.

Wijaya, L., Fernando, R., & Lembar, S. (2019). Pemeriksaan Penunjang dan Laboratorium Pada Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Unika Atma Jaya.

Yusmaniar, Wardiyah, & Nida, K. (2017). Mikrobiologi dan Parasitologi. Jakarta: kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Tinggalkan komentar