Laporan Praktikum Mikrobiologi Umum Pewarnaan Bakteri, Endospora Bakteri, dan Kapang

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mikroba memiliki ukuran yang mikroskopis sehingga tidak dapat dilihat secara langsung oleh mata oleh karena itu, untuk mengamati mikroba dibutuhkan alat bantu berupa mikroskop. Akan tetapi, dalam pengamatannya juga sering kali ditemukan kendala karena mikroba seperti bakteri Kebanyakan tidak berwarna sehingga jika dilarutkan di dalam air dan dilihat di bawah mikroskop tidak memperlihatkan warna yang kontras dengan medium di sekelilingnya. Warna sel mikroba dapat dibuat lebih kontras dan lebih mudah dilihat di bawah mikroskop dengan cara mewarnai sel tersebut dengan suatu zat warna. Beberapa zat yang digunakan untuk mewarnai bakteri juga dapat digunakan untuk mengamati struktur bagian dalam sel. Keuntungan lain dari pewarnaan, terutama untuk bakteri yang mempunyai sel dengan ukuran relatif kecil, adalah karena bakteri yang diwarnai akan lebih mudah dilihat di bawah mikroskop menggunakan lensa objektif minyak imersi yang mempunyai tingkat pembesaran relatif tinggi (Artama, 2011).

Oleh karena itu, teknik pewarnaan ini tidak hanya mempermudah dalam melihat bakteri yang berukuran mikroskopis, tetapi juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi bakteri berdasarkan perbedaan gramnya. Perbedaan dari kedua jenis bakteri ini disebabkan oleh perbedaan dalam lapisan-lapisan dinding selnya. Dengan memberikan pewarnaan ini bakteri dapat diidentifikasi dan diketahui pengelompokan jenisnya. selain itu, pewarnaan juga dapat digunakan untuk melihat ada tidaknya struktur endospora dalam sel bakteri. Tidak hanya pada bakteri, pewarnaan juga dapat digunakan untuk mengamati struktur morfologi kapang sehingga dapat diidentifikasi. Allah juga telah menjelaskan dalam Q.S An-Nahl ayat 13 yang berbunyi:

“Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran”(An Nahl ayat 13).


Ayat ini menjelaskan bahwa terdapat berbagai macam makhluk di muka bumi baik yang terlihat maupun tidak sehingga kita dapat mengambil pelajaran darinya.  Oleh karena itu, praktikum ini penting dilakukan untuk mengetahui cara-cara dan metode pewarnaan pada bakteri dan kapang sehingga dapat diidentifikasi baik morfologi dan jenisnya, Serta dapat menambah ketakwaan kita terhadap Allah melalui makhluk ciptaan-Nya.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari praktikum ini yaitu:

  1. Bagaimanakah teknik pembuatan apusan bakteri?
  2. Bagaimanakah teknik pewarnaan mikroba?
  3. Bagaimanakah bentuk sel, letak endospora dan sifat gram bakteri?
  4. Bagaimanakah morfologi dari kapang?

1.3 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini yaitu:

  1. Mengetahui teknik pembuatan apusan bakteri.
  2. Mengetahui teknik pewarnaan mikroba.
  3. Melihat bentuk sel, letak endospora dan sifat gram bakteri.
  4. Mengamati morfologi kapang.

1.4 Manfaat

Manfaat dari praktikum ini yaitu:

  1. Menambah wawasan terkait dengan teknik pembuatan apusan bakteri.
  2. Menambah wawasan terkait dengan pewarnaan mikroba.
  3. Menambah wawasan terkait bentuk sel, letak endospora dan sifat gram bakteri.
  4. Menambah wawasan terkait morfologi kapang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teknik Pewarnaan Mikroba

Teknik pewarnaan pada bakteri dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu pengecatan sederhana, pengecatan negatif, pengecatan diferensial dan pengecatan struktural. Pemberian warna pada bakteri atau jasad-jasad renik lain dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis, atau olesan, yang sudah difiksasi, dinamakan pewarnaan sederhana. Prosedur pewarnaan yang menampilkan perbedaan di antara sel-sel mikroba atau bagian-bagian sel mikroba disebut teknik pewarnaan diferensial. Sedangkan pengecatan struktural hanya bisa mewarnai satu bagian dari sel sehingga dapat membedakan bagian-bagian dari sel. Termasuk dalam pengecatan ini adalah pengecatan endospora, flagela, dan pengecatan kapsul (Putri, Sukini, & Yodong, 2017).

2.2 Pewarnaan Gram Bakteri

Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah salah satu teknik pewarnaan yang paling penting dan luas yang digunakan untuk mengidentifikasi bakteri. Dalam proses ini, olesan bakteri yang sudah terfiksasi dikenai larutan-larutan berikut : zat pewarna kristal violet, larutan yodium, larutan alkohol (bahan pemucat), dan zat pewarna tandingannya berupa zat warna safranin atau air fuchsin. Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (1853–1938) yang mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara Pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae (Putri, Sukini, & Yodong, 2017).

Bakteri yang terwarnai dengan metode ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bakteri Gram Positif dan Bakteri Gram Negatif. Bakteri Gram positif akan mempertahankan zat pewarna kristal violet dan karenanya akan tampak berwarna ungu tua di bawah mikroskop. Adapun 28 bakteri gram negatif akan kehilangan zat pewarna kristal violet setelah dicuci dengan alkohol, dan sewaktu diberi zat pewarna tandingannya yaitu dengan zat pewarna air fuchsin atau safranin akan tampak berwarna merah. Perbedaan warna ini disebabkan oleh perbedaan dalam struktur kimiawi dinding selnya (Putri, Sukini, & Yodong, 2017).


Menurut Waluyo (dalam Nurhidayati, Faturrahman, Ghazali, 2015), uji pewarnaan gram dilakukan dengan akuades steril diletakkan di atas kaca objek, koloni bakteri di ambil satu ose dari media diletakkan di atas akuades steril dan sebarkan hingga merata, biarkan olesan tersebut kering karena udara. Setelah olesan benar-benar kering kemudian lalukan kaca objek tersebut beberapa kali di atas nyala api sampai kaca objek terasa agak panas bila ditempelkan pada punggung tangan. Kemudian ditetesi dengan larutan kristal ungu (Gram A), dan didiamkan selama satu menit, kemudian cuci menggunakan akuades pada botol semprot dan dikeringkan.

Selanjutnya ditetesi dengan larutan yodium (Gram B) dan dibiarkan selama 2 menit, dicuci menggunakan akuades pada botol semprot dan dikeringkan. Kemudian ditetesi dengan larutan etanol 95% (Gram C) selama 30 detik, dicuci menggunakan akuades pada botol semprot dan dikeringkan. Setelah itu ditetesi dengan larutan safranin (Gram D) atau zat penutup dan didiamkan selama 30 detik, kemudian dicuci menggunakan akuades pada botol semprot dan dikeringkan. Selanjutnya diamati dengan menggunakan mikroskop pada pembesaran kuat.

2.3 Pewarnaan Endospore Bakteri

Ada dua genus bakteri yang dapat membentuk endospora, yaitu genus Bacillus dan genus Clostridium. Struktur spora yang terbentuk di dalam tubuh vegetatif bakteri disebut sebagai ‘endospora’ (endo = dalam, spora = spora) yaitu spora yang terbentuk di dalam tubuh. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa endospora merupakan sel yang mengalami dehidrasi dengan dinding yang mengalami penebalan serta memiliki beberapa lapisan tambahan. Dengan adanya kemampuan untuk membentuk spora ini, bakteri tersebut dapat bertahan pada kondisi yang ekstrim (Putri, Sukini, & Yodong, 2017).


Ada atau tidaknya spora dapat teramati, bahkan posisi spora di dalam tubuh sel vegetatif juga dapat diidentifikasi. Namun ada juga zat warna khusus untuk mewarnai spora dan di dalam proses pewarnaannya melibatkan proses pemanasan, yaitu; spora dipanaskan bersamaan dengan zat warna tersebut sehingga memudahkan zat warna tersebut untuk meresap ke dalam dinding pelindung spora bakteri (Putri, Sukini, & Yodong, 2017). Pada pewarnaan endospora, reagen yang digunakan adalah malachite green dan safranin untuk pewarnaan spora. Hasil dari pewarnaan endospora pada bakteri C setelah dilihat dengan menggunakan mikroskop menunjukkan warna hijau yang menunjukkan bahwa bakteri tersebut memiliki endospora (Pratita & Putra, 2012).

2.4 Pewarnaan Kapang

Lactophenol Cotton Blue (LPCB) adalah reagen yang digunakan sebagai pewarnaan untuk jamur. Reagen Lactophenol Cotton Blue mengandung kristal fenol, cotton blue, asam laktat, gliserol, dan air suling. Cotton blue berfungsi memberi warna pada jamur, gliserol berfungsi menjaga fisiologi sel dan menjaga sel terhadap kekeringan, asam laktat mempertahankan struktur jamur dan membersihkan jaringan sementara fenol berfungsi sebagai desinfektan (Asali, Natalia, & Mahyarudin, 2018).

2.5 Deposit Limbah Yang Baik Dan Benar

Limbah laboratorium merupakan limbah yang berasal dari buangan hasil reaksi-reaksi berbagai larutan kimia dalam suatu eksperimen. Limbah laboratorium mengandung jenis senyawa-senyawa organik dan logam. Hal ini akan berdampak pada lingkungan jika dibuang langsung tanpa proses pengolahan limbah terlebih dahulu (Yohana, Arifin, & Destiarti, 2018). Limbah B3 terdiri dari limbah padat (endapan sisa pereaksi, kertas saring, media agar, kertas tisu, kertas timbang, dan lain-lain), dan limbah cair berupa larutan hasil reaksi ataupun sisa pereaksi.  Sebelum dibuang, limbah ditampung dalam wadah jerigen dan dilabeli berdasarkan jenis parameter analisis. Perlu dilakukan inventarisasi secara berkala terhadap limbah B3, jenis dan jumlahnya. Untuk memudahkan pendataan terhadap limbah B3 yang dihasilkan, perlu dibuatkan formulir khusus yang dapat dengan mudah diisi dan sekaligus dikelompokkan. 6 kelompok katagori limbah, yaitu A (kelompok yang mengandung pelarut organik), B (kelompok yang mengandung sianida), C (kelompok yang mengandung Fluorida dan Fosfor), F (kelompok yang mengandung logam berat), G (kelompok yang mengandung asam dan basa) dan H (kelompok yang mengandung senyawa lainnya). Sistem dokumentasi pada label juga memudahkan dalam penyimpanan dan untuk selanjutnya pengangkutan limbah (Setiawati, Wulandari, Komarudin, & Desniati, 2019).


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu Dan Tempat

Praktikum Mikrobiologi Umum dengan judul “Pewarnaan Bakteri, Endospora Bakteri Dan Kapang” ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 30 November 2020 pada pukul 18.00 WIB sampai selesai. Praktikum dilaksanakan secara online di Jalan H.M. Thaib, Kabupaten Berau melalui media whatsapp.

3.2 Alat Dan Bahan

3.2.1 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu objek glass untuk meletakkan objek, tisu untuk membersihkan objek glass, kertas label untuk menandai objek, penjepit gelas benda untuk menjepit dan memindahkan objek glass, jarum ose untuk mengambil kultur bakteri dan bunsen untuk mencegah kontaminasi dan digunakan dalam fiksasi. mikroskop untuk mengamati sel bakteri, kawat ram untuk meletakkan objek glass, botol semprot yang berisi air untuk membersihkan sisa pewarnaan, dan pipet tetes untuk mengambil larutan yang digunakan, beaker glass sebagai wadah limbah pewarna dan juga digunakan sebagai wadah air panas pada pewarnaan endospora serta dua buah jarum pentul untuk menguraikan hifa pada kapang. 

3.2.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu kultur murni bakteri sebagai objek yang akan diuji, alkohol 70% untuk mensterilkan tangan dan alat kerja yang akan digunakan, dan akuades steril sebagai campuran kultur murni dalam bentuk padatan. Crystal violet (cat Gram A) untuk memberikan warna pada bakteri gram positif, Larutan iodin (cat Gram B) untuk memperkuat pengikatan zat warna, Alkohol 96% (cat Gram C) untuk membilas atau melunturkan kelebihan zat warna pada sel bakteri, safranin (cat Gram D) berfungsi untuk mewarnai kembali sel-sel yang telah kehilangan pewarna utama setelah perlakuan dengan alkohol. Minyak immersi untuk memperjelas bayangan yang dibentuk mikroskop, dan KOH 10% untuk menguji ada tidaknya lendir yang terbentuk dari bakteri. Selain itu, digunakan juga  malachite green untuk pewarnaan endospora, Kultur murni kapang/jamur sebagai objek pewarnaan, dan larutan Lactophenol Cotton Blue (LCB) sebagai cat warna pada kapang.


3.3 Langkah Kerja

3.3.1 Teknik Pembuatan Apusan Bakteri

Langkah kerja dalam pembuatan apusan bakteri yaitu terlebih dahulu dilakukan sterilisasi pada tangan dan alat kerja. Dinyalakan bunsen untuk menghindari kontaminasi, disterilkan jarum ose dengan memijarkannya pada nyala bunsen kemudian didinginkan. Setelah itu, diberi akuades steril pada objek glass kemudian diratakan, disiapkan kultur bakteri murni dan diambil dengan jarum ose satu bagian kecil kultur dan diletakkan di tengah gelas benda yang sebelumnya telah diberi akuades steril. Diratakan kultur dan dibiarkan kering dengan mengangin-anginkan gelas benda. Selanjutnya, difiksasi pulasan bakteri dengan dilewatkan di atas nyala Bunsen. Preparat apusan bakteri siap diwarnai.

3.3.2 Teknik Pewarnaan Bakteri Dengan Cat Gram Dan Konfirmasi KOH

Langkah kerja dalam pewarnaan bakteri dengan cat gram dan konfirmasi KOH yaitu diteteskan cat Kristal violet (gram A) dan diamkan selama 60 detik. Dituang sisa cat dan dicuci sisanya dengan air mengalir. Kemudian diteteskan larutan iodin (gram B) dan diamkan selama 60 detik, dengan langkah yang sama dibuang sisa cat dan dicuci dengan air mengalir. Setelah itu, diteteskan larutan peluntur yaitu alkohol (gram C) dan didiamkan selama 30 detik, dibuang sisa cat dan cuci sisanya  dengan air mengalir. Selanjutnya, diteteskan safranin (gram D) dan diamkan selama 60 detik, dicuci kembali dengan air mengalir dan keringkan dengan cara diangin-anginkan. Preparat pewarnaan sel bakteri siap diamati menggunakan mikroskop.

Selanjutnya dilakukan konfirmasi sifat gram dengan KOH 10%. Langkah kerja yang dilakukan yaitu diteteskan KOH 10% pada objek glass yang telah steril. Dicampurkan dengan satu ose kultur bakteri dan dipastikan pengambilan kultur dilakukan secara steril di dekat bunsen. Ditunggu selama 30 detik dan bakteri gram negative akan membentuk lendir saat ditarik. Sedangkan bakteri gram positif akan encer. Kemudian ditarik ose secara perlahan.


3.3.3 Teknik Pewarnaan Endospore Bakteri

Langkah kerja dalam teknik pewarnaan endospora bakteri yaitu disiapkan preparat apusan bakteri dan beaker glass berisi air mendidih. Ditutup preparat dengan menggunakan kertas saring atau kertas tisu. Kemudian, diletakkan di atas air mendidih. Diteteskan larutan malachite green di atas kertas tisu hingga basah.

Diamkan selama 5-6 menit dan ditambahkan pewarna lagi apabila kertas tisu terlihat kering. Setelah itu, dipindahkan gelas preparat dan diambil kertas tisu yang menutup preparat. Kemudian, dicuci preparat dengan air selama 30 detik dan dikering anginkan. Diteteskan pewarna safranin dan diamkan selama 30 detik. Dicuci dan dibilas pewarna menggunakan air selama 30 detik. Preparat siap diamati menggunakan mikroskop.

3.3.4 Teknik Pewarnaan Kapang

Langkah kerja dalam teknik pewarnaan kapang yaitu dibersihkan objek glass dan cover glass menggunakan alkohol 70% dan diusap dengan tisu untuk menghilangkan noda dan lemak yang menempel. Disiapkan larutan Lactophenol Cotton Blue (LCB) dan diteteskan sedikit larutan di tengah objek glass. Disiapkan kultur kapang atau jamur murni. Disterilkan jarum ose di atas Bunsen. Kemudian, diambil sedikit hifa kapang yang ada di bagian tepi menggunakan jarum ose. Ditaruh di permukaan objek glass yang telah ditetesi LCB. Setelah itu, diuraikan hifa secara berhati-hati menggunakan dua jarum pentul yang telah disterilkan menggunakan bunsen. Ditutup sediaan kapang menggunakan cover glass secara hati-hati dan diusahakan tidak ada gelembung udara dalam preparat. Preparat pewarnaan jamur siap diamati menggunakan mikroskop.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pembuatan Apusan Bakteri

pembuatan apusan bakteri
(Biologi Biologi, 2020)

Berdasarkan praktikum pembuatan apusan bakteri, terlebih dahulu sterilkan alat kerja dan tangan sebelum membuat apusan. Kultur bakteri murni diambil menggunakan jarum ose yang telah disterilkan dengan cara dipijarkan pada nyala bunsen dan kemudian kultur diletakkan pada objek glass yang telah diberikan akuades. Akuades diberikan karena kultur murni yang digunakan yaitu kultur dalam medium padat.


Hal ini didukung oleh pernyataan Jika kultur diambil dari medium cair maka penyebaran dapat langsung dilakukan di atas gelas objek yang bersih menggunakan loop. Tetapi, jika kultur diambil dari agar padat maka sebelumnya di atas gelas objek harus diberi setetes air (Artama, 2011). Setelah pengambilan kultur, langkah selanjutnya dalam pembuatan apusan bakteri yaitu letakkan kultur pada bagian tengah kemudian diratakan dan diangin-anginkan hingga kering. Hal ini didukung oleh pernyataan kemudian kultur diambil sedikit dengan ujung loop yang telah dipijarkan, dan diratakan di atas gelas objek sehingga terbentuk lapisan tipis (Artama, 2011). 

Apusan bakteri yang sudah kering kemudian difiksasi dengan cara dilewatkan pada nyala Bunsen sehingga bakteri dapat melekat kuat pada objek glass dan tidak mudah terhapus saat proses pewarnaan. Hal ini didukung oleh pernyataan Sebelum dilakukan pewarnaan maka sel-sel bakteri harus terlebih dahulu difiksasi pada gelas objek. Jika sel-sel tidak difiksasi pada gelas objek maka lapisan sel yang akan diwarnai dapat tercuci selama prosedur pewarnaan. Yang dimaksud dengan fiksasi adalah membunuh bakteri dan membuat sel-sel bakteri tersebut melekat pada gelas objek. Untuk tujuan ini, biasanya digunakan panas (Artama, 2011).

4.2 Hasil Pewarnaan Bakteri Dengan Cat Gram Dan Konfirmasi KOH

pewarnaan bakteri gram positif
Pewarnaan bakteri gram positif (perbesaran 100x)
(Wulandari & Purwaningsih, 2019)
pewarnaan bakteri gram negatif
Pewarnaan bakteri gram negatif (perbesaran 1000x)
(Afrina, Chismirina, & Aulia, 2016)

Berdasarkan praktikum pewarnaan bakteri dengan cat gram dan konfirmasi KOH, apusan bakteri diberikan pewarnaan menggunakan empat cat gram yaitu crystal violet sebagai cat gram A, iodin sebagai cat gram B, alkohol sebagai cat gram C dan terakhir yaitu safranin sebagai cat gram D. Dalam pewarnaan gram, crystal violet diteteskan pada apusan dan didiamkan selama 60 detik. Setelah itu sisa cat dibersihkan dengan air mengalir dan kembali lagi apusan diberikan tetesan iodin selama 60 detik. Dengan langkah yang sama sisa cat dibersihkan dengan air dan diberikan tetesan pewarna ketiga yaitu alkohol. Setelah ditunggu selama 30 detik, apusan dibersihkan dan diteteskan pewarna safranin kemudian didiamkan selama 60 detik. Apusan dicuci kembali dan diangin-anginkan hingga kering kemudian diamati menggunakan mikroskop.


Pernyataan di atas didukung oleh pernyataan dalam pewarnaan gram, mula-mula sel bakteri diwarnai dengan zat warna basa yaitu kristal violet, diikuti perlakuan menggunakan suatu mordant yaitu larutan yodium (lugol). Sel kemudian dicuci dengan alkohol untuk menghilangkan violet kristal. Setelah dicuci dengan air, kemudian diwarnai dengan “counterstain” yaitu safranin. Sel-sel yang tidak dapat melepaskan warna dan akan tetap berwarna seperti warna kristal violet, yaitu biru-ungu disebut bakteri gram-positif sedang sel-sel yang dapat melepaskan violet kristal dan mengikat safranin sehingga berwarna merah-merah muda disebut bakteri gram-negatif (Artama, 2011).

Pewarnaan bakteri menggunakan cat gram memberikan perbedaan warna pada hasil apusan bakteri. Perbedaan warna ini, disebabkan oleh struktur dinding sel yang berbeda antara gram positif dan gram negatif. Bakteri gram positif akan mengikat crystal violet sehingga menyebabkan apusan berwarna ungu. Sedangkan bakteri gram negatif melepaskan crystal violet dan kemudian mengikat safranin sehingga apusan tampak berwarna merah. Hal ini didukung oleh pernyataan Bakteri gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram-positif akan mempertahankan warna ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri gram negatif tidak. Pada uji pewarnaan Gram, suatu pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metil ungu, yang membuat semua bakteri gram-negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini berdasarkan pada perbedaan struktur dinding sel mereka (Ampou, Triyulianti, & Nugroho, 2015). Untuk mengkonfirmasi hasil dari pewarnaan gram bakteri, dilakukan konfirmasi menggunakan larutan KOH 10%. Kultur murni bakteri diletakkan pada objek glass yang telah diberikan larutan KOH, secara aseptis. Gram negatif akan membentuk lendir ketika didiamkan selama 30 detik. Sedangkan pada gram positif tidak. Hal ini didukung oleh pernyataan Uji Gram dilakukan dengan mencampurkan satu lup isolat bakteri pada kaca objek yang telah ditetesi KOH sebanyak 10 µL, kemudian diamati terbentuk tidaknya lendir. Jika terbentuk lendir maka bakteri tersebut dikelompokkan ke dalam Gram negatif namun jika tidak terbentuk lendir maka tergolong Gram positif (Kurnia, Sadi, & Jumianto, 2016).


4.3 Hasil Pewarnaan Edospore Bakteri

pewarnaan endospora bakteri
Bacillus megaterium
(Hungate Halvorson, Hutchison, & Orrego, 2019)

Berdasarkan praktikum pewarnaan endospora bakteri, bakteri diberikan pewarnaan menggunakan malachite green dengan terlebih dahulu meletakkan objek glass di atas air yang mendidih. Hal ini bertujuan untuk mengaktifkan endospora pada bakteri. Setelah diberikan pewarnaan malachite green dan didiamkan selama 5-6 menit, pewarna dibersihkan menggunakan air selama 30 detik dan kembali diberikan tetesan pewarna safranin untuk memberikan pewarnaan pada  sel vegetatif. Endospora pada sel bakteri akan menunjukkan warna hijau karena mengikat pewarna malachite green sedangkan sel vegetatif akan berwarna merah karena mengikat safranin.

Pernyataan di atas sesuai dengan pernyataan bahwa prinsip pewarnaan ini digunakan untuk membedakan spora dari sel vegetatif. Zat warna yang paling sering digunakan untuk mewarnai spora adalah malachite green (Schaeffer dan Fulton) yang akan tetap diikat oleh spora setelah pencucian dengan air, dan sebagai “counterstain” digunakan safranin. Teteskan pewarna hijau malasit di atas lapisan film pada gelas objek, dan biarkan selama 20 menit tanpa pemanasan, atau selama 5 menit di atas penangas air. Setiap kali pewarna menjadi kering, teruskan lagi pewarna yang baru. Cucilah hati-hati dengan air selama 20 – 30 detik, kemudian diberi safranin selama 30 detik. Setelah dibilas dengan air, kemudian dikeringkan dengan kertas serap. Endospora yang masih terdapat di dalam sel vegetatif maupun spora bebas akan berwarna hijau-biru, sedangkan sel vegetatif akan berwarna merah sampai merah muda (Artama, 2011).


Berdasarkan pada gambar, terlihat bakteri memiliki bentuk bacillus, berbentuk silindris memanjang. Endospora yang terdapat pada sel bakteri berbentuk bulat lonjong dan  terletak pada bagian ujung (terminal endospore) dan hanya terdapat satu endospora saja pada tiap bakteri. Selain ditemukan di dalam sel bakteri, endospora juga ditemukan berupa sel-sel bebas. Pada sel vegetatif, terlihat berwarna merah karena mengikat warna dari pewarna safranin. Pernyataan ini didukung oleh Ada dua genus bakteri yang dapat membentuk endospora, yaitu genus Bacillus dan genus Clostridium. Endospora yaitu struktur berbentuk bulat atau bulat lonjong. Pada sel vegetatif juga diwarnai dengan larutan Safranin 0,5% sehingga sel vegetatif ini berwarna merah (Putri, Sukini & Yodong, 2017).

4.4 Hasil Pewarnaan Kapang

hasil pewarnaan kapang
(Syahputra, Anhar, & Irdawati, 2017)
Ket: (b) konidiofor, (c) konidia, (d) fialid, (e) hifa, (f) sekat

Berdasarkan praktikum pewarnaan kapang, kapan diwarnai menggunakan larutan Lactophenol Cotton Blue (LCB).  Kultur kapang diletakkan pada objek glass yang telah diteteskan LCB, secara steril dan kemudian hifa diuraikan secara berhati-hati menggunakan dua jarum pentul yang telah disterilkan menggunakan bunsen. Objek glass ditutup menggunakan cover glass, diusahakan tidak ada gelembung udara dalam preparat dan preparat pewarnaan jamur siap diamati menggunakan mikroskop.  Pernyataan ini didukung oleh pernyataan kapang ditanam pada slide kultur dan dilakukan pewarnaan dengan Lactophenol Cotton Blue (LCB). Kapang yang tumbuh diamati di bawah mikroskop pada pembesaran 20, 40, dan 100 kemudian di identifikasi morfologinya (Adzima, Jamin, & Abrar, 2013).


Berdasarkan gambar di atas, terlihat struktur morfologi kapang Trichoderma berupa konidiofor, hifa, sekat, fialid dan konidia. Konidiofor pada Trichoderma terlihat memiliki percabangan dan pada ujungnya terdapat konidia. Struktur hifa pada kapang terlihat berbentuk silindris memanjang yang lebih lebar dibandingkan dengan fialidnya, pada hifa  juga terdapat sekat yang memanjang secara melintang. Pada struktur fialid kapang, terlihat berbentuk silindris dan memiliki beberapa percabangan kecil. Sedangkan pada struktur konidia kapang, terlihat berbentuk lingkaran dengan jumlah yang cukup banyak dan menempel pada konidiofor.

Pernyataan ini didukung oleh Genus Trichoderma memiliki ciri khas makroskopis koloni yang mudah dikenali secara visual serupa serbuk, berwarna kehijauan dengan bagian dasar sama seperti warna koloni bagian atas. Ciri-ciri mikroskopis dengan mengamati bentuk dan ukuran dari konidia, konidiofor, fialida, dan hifa kapang. Hifa berwarna bening transparan. Konidiofor bercabang, berwarna kehijauan. Dinding konidiofor halus. Fialida berwarna kehijauan. Konidia berwarna kehijauan, berbentuk subglobose, dan berdinding halus (Nadhifa, Hastuti, & Syamsuri, 2016). Hyphae (bentuk tunggalnya hifa atau hifum) berbentuk seperti tabung yang meliputi sitoplasma fungi beserta organel lainnya). Hifa adalah unit struktural kapang. Hifa terbagi menjadi unit-unit sel dengan dinding pemisah yang disebut septa (Putri, Sukini, & Yodong, 2017).

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Metode pembuatan apusan bakteri dilakukan dengan meletakkan kultur bakteri pada glass objek yang telah diberi larutan akuades karena kultur bakteri murni yang digunakan dalam media padat, secara aseptis dan kemudian diangin-anginkan hingga kering. Metode pewarnaan gram dilakukan dengan memberikan pewarnaan berupa kristal violet, larutan yodium, larutan alkohol (bahan pemucat), dan zat pewarna tandingannya berupa zat warna safranin. Bakteri gram negatif akan melunturkan pewarna Kristal violet dan mengikat safranin sehingga berwarna merah. Sedangkan bakteri gram positif akan mengikat Kristal violet sehingga berwarna ungu saat diamati menggunakan mikroskop. Untuk mengkonfirmasi sifat gram, dilakukan konfirmasi menggunakan larutan KOH sehingga didapati bakteri gram negatif akan membentuk lendir sedangkan bakteri gram positif tidak.

Bakteri, memiliki endospora yang dapat diamati menggunakan mikroskop melalui pewarna endospora. Berdasarkan pemaparan pada hasil, bakteri ditemukan berbentuk bacillus dan memiliki endospora terminal serta sel vegetatif yang berwarna merah karena mengikat safranin. Pada morfologi kapang, ditemukan struktur berupa hifa, konidiofor, konidia, septa, dan fialid.


5.2 Saran

Perlu ketelitian dan perhatian lebih dalam menentukan takaran pada larutan pewarna dan kultur yang digunakan pada semua metode pewarnaan yang dilakukan. Takaran yang terlalu banyak ataupun terlalu sedikit dapat mempengaruhi hasil percobaan.

LAMPIRAN

1. Mengapa perlu dilakukan proses fiksasi bakteri atau pembuatan apusan bakteri sebelum dilakukan pewarnaan sel?

Dalam pembuatan pulasan bakteri yang siap diwarnai, perlu dilakukan fiksasi terlebih dahulu yang bertujuan antara lain:

  • mencegah mengkerutnya globula-globula protein sel
  • merubah afnitas cat
  • mencegah terjadinya otolisis sel
  • dapat membunuh mikroba secara cepat dengan tidak menyebabkan perubahan-perubahan bentuk atau strukturnya
  • melekatkan bakteri di atas gelas benda
  • membuat sel-sel lebih kuat/keras.

2. Jelaskan fungsi tiap larutan yang digunakan pada pewarnaan dengan cat Gram!

Crystal violet (cat Gram A) Merupakan pewarna primer (utama) yang akan memberi warna pada  mikroorganisme target. Crystal Violet bersifat basa sehingga mampu berikatan dengan sel mikroorganisme yang bersifat asam, dengan begitu sel mikroorganisme yang transparan akan terlihat berwarna (Ungu).

Larutan iodin (cat Gram B) merupakan pewarna yang berfungsi memfiksasi pewarna primer yang diserap mikroorganisme target. Pemberian yodium pada pengecatan gram dimaksudkan untuk memperkuat pengikatan warna oleh bakteri.

Alkohol 96% (cat Gram C) berfungsi untuk membilas atau melunturkan kelebihan zat warna pada sel bakteri (mikroorganisme).

Safranin (cat Gram D) Safranin merupakan pewarna tandingan atau pewarna sekunder. Zat ini berfungsi untuk mewarnai kembali sel-sel yang telah kehilangan pewarna utama setelah perlakuan dengan alkohol. Dengan kata lain , memberikan warna pada mikroorganisme non target.


3. Jelaskan perbedaan struktur dinding sel bakteri Gram – dan bakteri Gram +, sertai dengan gambar!

struktur dinding bakteri gram + dan gram -

Perbedaan dari struktur dinding sel bakteri gram- dan + yaitu Komposisi dinding sel gram negatif terdiri dari kandungan lipid yang tinggi, berbeda dengan komposisi dinding sel bakteri gram positif yang mengandung lipid rendah. Bakteri Gram Negatif mempunyai sistem membran yang ganda dengan membran plasma bakteri dilindungi membran luar permeabel, bakteri negatif juga memiliki dinding sel peptidoglikan di antara membran luar dan membran dalam. Sementara bakteri gram positif hanya memiliki membran plasma yang tunggal dengan dikelilingi oleh dinding sel yang tebal dari peptidoglikan. Hampir 90% dinding sel bakteri gram positif ini tersusun dari peptidoglikan.

4. Mengapa pada proses pewarnaan endospora perlu dilakukan pada suhu panas (diletakkan di atas uap air mendidih)?

Berbeda dengan sel vegetatif maka spora yang digunakan dalam keadaan dorman (istirahat) pada bakteri akan lebih tahan lama dalam keadaan lingkungan yang ekstrem, misalnya dalam keadaan kering, panas, atau adanya bahan kimia yang beracun. Sehingga untuk mengaktifkan endospora bakteri haruslah diberikan kondisi lingkungan yang ekstrim seperti menggunakan uap panas.

5. Sebutan bagian-bagian morfologi kapang yang telah diamati!

Pada gambar, diamati struktur morfologi kapang yaitu konidiofor, konidia, fialid, hifa, sekat.


Daftar Pustaka

Adzima, V., Jamin, F., & Abrar, M. (2013). Isolasi dan identifikasi kapang penyebab dermatofitosis pada anjing di Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh. Jurnal Medika Veterinaria, 7(1).

Afrina, Chismirina, S., & Aulia, C. R. P. (2016). Konsentrasi hambat dan bunuh minimum ekstrak buah kapulaga. Journal of Syiah Kuala Dentistry Society, 1(2).

Ampou, E. E., Triyulianti, I., & Nugroho, S. C. (2015). Bakteri asosiasi pada karang scleractinia kaitannya dengan fenomena la-nina di Pulau Bunaken. Jurnal Kelautan Nasional, 10(2).

Artama, T. (2011). Praktikum mikrobiologi dan sanitasi pangan. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Asali, T. Natalia, D., & Mahyarudin. (2018). Uji resistensi penyebab tinea pedis pada Satuan Polisi Pamong Praja Kota Pontianak terhadap griseofulvin. Jurnal Kesehatan Khatulistiwa, 4(2).

Biologi Biologi. (2020, November 9). Praktikum mikrobiologi umum: Pewarnaan Bakteri, Endospora bakteri dan kapang [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?
v=7hJUpdI73YI

Hungate, R. E., Halvorson, H. O., Hutchison, K., & Orrego, C. (2019). Bacteria. AccessScience.

Kurnia, K., Sadi, N. H., & Jumianto, S. (2016). Isolasi bakteri heterotrof di Situ Cibutu, Jawa Barat dan karakterisasi resistensi asam dan logam. Al-Kauniyah, 9(2).

Nadhifa, Y. M., Hastuti, U. S., & Syamsuri, I. (2016). Isolasi, karakterisasi, dan identifikasi mikroflora dari rizosfer tanah pertanian tebu (Saccharum officinarul L.) sebagai bahan ajar kingdom fungi untuk sisa kelas X SMA. Jurnal Pendidikan, 1(10).

Nurhidayati, S., Faturrahman, & Ghazali, M. (2015). Deteksi bakteri patogen yang berasosiasi dengan Kappaphycus alvarezii (doty) bergejala penyakit ice-ice. Jurnal Sains Teknologi Dan Lingkungan, 1(2).

Pratita, M. Y. E, Putra, S. R. (2012). Isolasi dan identifikasi bakteri termofilik dari sumber mata air panas di Songgoriti setelah dua hari inkubasi. Jurnal Teknik Pomits, 1(1).

Putri, M. H., Sukini, & Yodong. (2017). Mikrobiologi. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Setiawati, T.A., Wulandari, E., Komarudin., & Desniati, E. (2019). Sistem dokumentasi pengelolaan limbah cair beracun dan berbahaya (B3) di laboratorium jasa uji. Indonesian Journal Of Laboratory, 1(2).

Syahputra, M. H., Anhar, A., & Irdawati. (2017). Isolasi Trichoderma spp. dari beberapa rizosfer tanaman padi asal Solok. Jurnal Biosains, 1(7).

Wulandari, D., & Purwaningsih, D. Identifikasi dan karakterisasi bakteri amilotik pada umbi Colocasia esculenta L. Secara morfologi, biokimia, dan molekuler. Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia, 6(2). Yohana, N., Arifin, & Destiarti, L. (2018). Pengolahan limbah laboratorium lingkungan fakultas teknik dengan kombinasi proses kimia dan biologi. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah, 6(1).

Tinggalkan komentar