Covid-19: Virus Yang Mematikan?

oleh | Mei 9, 2020 | Biologi dan Kesehatan | 0 Komentar

Pada bulan Desember 2019, puluhan orang di Wuhan, China, mengalami pneumonia. Setelah ditelusuri, ternyata hal ini disebabkan oleh mewabahnya virus yang mirip dengan virus SARS. Kemudian hingga bulan berikutnya, jumlah orang yang terinfeksi virus ini pun berlipat ganda hingga menyebar di berbagai negara.

Virus ini kemudian disebut SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome-Related Coronavirus 2) yang menyebabkan penyakit yang disebut Covid-19 (Corona Virus Desease 2019). Akan tetapi kita lebih umum menyebutnya Coronavirus.

Struktur Virus Corona

Tentang Virus Corona

Secara sederhana, virus hanyalah untaian protein yang dibungkus, yang pada dasarnya memang bukanlah makhluk hidup. Mereka hanya dapat menduplikasi diri dengan cara menginfeksi sel hidup.

Virus corona dapat menyebar lewat permukaan benda, akan tetapi berapa lama ia bisa bertahan belum dapat dipastikan dengan pasti.

Metode penyebarannya yang paling utama adalah melalui droplet infection, yakni dari air liur/ingus dari orang yang terinfeksi. Pada umumnya cairan tersebut tanpa kita sadari ada di tangan, lalu tanpa sadar pun tangan tersebut kita gunakan untuk memegang-megang wajah, terutama mata, hidung, dan mulut. Dari sinilah infeksi virus corona dimulai.

Infeksi Virus Corona

Dari mata, hidung, dan mulut, virus corona akan menumpang untuk masuk lebih dalam, misalnya melalui makanan yang kita telan jika lewat mulut. Sasaran utamanya adalah saluran pencernaan, limfa, terutama paru-paru, yang memiliki efek lebih fatal.

Paru-paru dikelilingi oleh miliaran sel epitel, sel terluar yang melapisi dan melindungi organ. Virus corona kemudian melekatkan diri dengan dinding sel epitel tersebut dan menyuntikkan materi genetiknya, yakni RNAnya.

Materi genetik tersebut kemudian menginstruksikan sel epitel untuk memproduksi virus corona baru. Sel epitel lalu mengikuti instruksi tersebut tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Seiring berjalannya waktu, sel tersebut memproduksi semakin banyak virus-virus corona baru di dalamnya. Hingga saat sudah sangat banyak, sel epitel diberikan instruksi baru, yakni self destruction, alias penghancuran diri sendiri.

Dinding sel epitel tersebut akan meluruh yang kemudian melepaskan virus corona dalam jumlah banyak. Virus-virus tersebut tentunya akan menginfeksi sel-sel lain, dan mengulangi proses yang sama. Dengan cara seperti ini, jumlah sel yang terinfeksi meningkat berkali-kali lipat.

Hanya sekitar 10 hari, jutaan sel tubuh akan terinfeksi dan miliaran virus corona akan membanjiri tubuh, terutama di paru-paru. Pada titik ini, virus corona belum memberi dampak fatal, hingga kemudian target virus ini yang selanjutnya adalah sistem imun.


Serangan Pada Sistem Imun

Setelah menginfeksi sel-sel paru-paru, virus corona akan mulai menginfeksi sel-sel sistem imun yang kemudian membuat sistem imun tubuh bingung.

Virus corona akan mengelabui sel imun yang terinfeksi sehingga menjadi overreact dan bingung. Hal tersebut akan membuatnya memanggil bantuan—yakni sel-sel imun lain—hingga terlalu banyak dari seharusnya.

Terdapat dua jenis sel imun utama yang dikacaukan virus ini, yakni sel neutrofil dan sel T pembunuh.

Yang pertama, neutrofil, salah satu senjata terkuat sistem imun, kompeten dalam membunuh, termasuk membunuh sel kita sendiri. Saat sel ini sampai di lokasi, ia akan berusaha membunuh sel-sel terinfeksi sebanyak mungkin dengan mengeluarkan enzim. Karena overreact, sel-sel sehat di sekitarnya pun ikut terbunuh.

Yang kedua, sel T pembunuh, sel ini dapat menginstruksikan sel-sel yang terinfeksi untuk bunuh diri. Karena telah dibingungkan oleh virus corona, sel ini kemudian akan menginstruksikan sel-sel tubuh yang sehat untuk bunuh diri juga.

Semakin banyak sel sistem imun yang datang akan semakin banyak kerusakan yang ditimbulkan, dan semakin banyak pula sel-sel tubuh yang sehat yang dibunuh oleh sistem imun kita sendiri.

Fase ini dapat terjadi hingga tahap sangat parah, yang mana dapat membuat kerusakan dan cacat pada paru-paru yang permanen. Pada mayoritas kasus, sistem imun akan perlahan-lahan memenangkan ‘pertempuran’ ini. Kemudian mencegah sel-sel tubuh lain agar tidak terinfeksi lagi. Lalu, pasien akan sembuh.

Infeksi Parah Virus Corona

Pada umumnya, gejala yang terjadi adalah demam dan batuk tak berdahak. Namun tak sedikit pula yang memiliki gejala yang parah, seperti pneumonia.

Pada kasus yang parah, miliaran sel epitel (sel pelindung) paru-paru akan rusak atau mati yang artinya jaringan pelindung paru-paru akan hilang. Hal ini berarti jaringan paru-paru akan sangat mudah sekali terinfeksi oleh bakteri yang pada awalnya tak jadi masalah. Pasian dapat mengalami pneumonia, kesulitan bernapas, bahkan perlu ventilator untuk bisa bernapas.

Sistem imun sudah berjuang dari awal melawan virus corona, sudah menggunakan jutaan senjata anti-virus untuk menanganinya, dan hampir kehabisan sumber daya. Sekarang ditambah lagi ribuan bakteri yang mulai semakin berkembang di paru-paru.

Dalam kondisi seperti ini tentunya kita tidak dapat hanya mengandalkan sistem imun kita sendiri yang nyatanya sudah ‘ngos-ngosan’. Jika bakteri tersebut sudah menyebar ke seluruh tubuh, kemungkinan terjadinya kematian menjadi cukup tinggi. Kondisi ini jelas sangat memerlukan bantuan medis yang intens.

Simpulan

Virus hanyalah seutas DNA/RNA yang dibungkus protein. Sejatinya adalah benda mati yang hanya dapat hidup jika masuk ke dalam makhluk hidup lain.

Beberapa virus paling berbahaya di dunia ini memang nyatanya menargetkan sistem imun tubuh kita, seperti Ebola, HIV, tak terkecuali SARS-CoV-2 yang sedang mewabah sekarang ini.

Jika terinfeksi virus tersebut, seiring waktu sistem imun tubuh kita akan melemah, dan akan sangat mudah bagi virus dan bakteri lain untuk menyerang dan memperparah gejala dan penyakit. Hal seperti ini yang umumnya fatal dan banyak menyebabkan kematian.

Tapi kita tidak akan mengalami itu semua jika dari awal kita berupaya mencegah agar virus tersebut tidak masuk ke dalam tubuh kita. Kita dapat menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain, sering mencuci tangan terutama setelah beraktivitas di luar rumah, serta meningkatkan sistem imun kita misalnya dengan meningkatkan konsumsi vitamin C.

Kamu juga bisa membaca lebih lanjut tentang alkohol di sumber berikut.

Meminum Alkohol Dapat Membunuh Virus dan Bakteri?

Stay safe.

Referensi: 1 2

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular Post

Related Post

Membusukkah Manusia Jika Meninggal Di Ruang Angkasa?

Membusukkah Manusia Jika Meninggal Di Ruang Angkasa?

Astronot mengenakan baju khusus ruang angkasa—yang selanjutnya kita sebut spacesuit—agar selamat dari bahaya yang ada di ruang angkasa. Bahaya tersebut seperti radiasi yang dapat merusak tubuh yang sebagian besar dari matahari hingga keperluan dasar seperti oksigen untuk astronot tersebut bernapas. Tetapi jika manusia mati di luar sana, apa yang terjadi pada tubuhnya?

Microplastic: Ancaman Dimanapun Kita Berada

Microplastic: Ancaman Dimanapun Kita Berada

Plastik. Mudah dibuat, murah, tahan lama, dapat dipakai dimana saja. Plastik seperti emas baru dalam peradaban manusia sekarang. Akan tetapi plastik seakan menjadi racun baru bagi lingkungan. Bahkan pada tahun 2018, plastik dapat ditemukan di dalam ‘poop’ manusia. Apa yang sebenarnya terjadi?

Telur atau Ayam, Siapa Lebih Dulu? | Berikut Penjelasannya

Telur atau Ayam, Siapa Lebih Dulu? | Berikut Penjelasannya

Perdebatan terkait dengan keberadaan ayam atau telur yang terlebih dahulu ada bukanlah hal baru yang muncul beberapa tahun belakangan ini, melainkan sudah sejak lama pertanyaan ini menjadi perdebatan baik dikalangan masyarakat biasa hingga para ilmuwan.