Meminum Alkohol Dapat Membunuh Virus dan Bakteri?

oleh | Mei 9, 2020 | Biologi dan Kesehatan | 0 Komentar

Alkohol merupakan bahan utama yang digunakan dalam disinfektan dan hand sanitizer, bahan ini dapat membunuh kuman/patogen dengan efektif jika digunakan dengan tepat. Bahkan WHO (World Health Organization) mewajibkan mendisinfeksi permukaan seperti meja dan gagang pintu serta tangan untuk mencegah penyebaran Coronavirus.

Akan tetapi terdapat rumor bahwa meminum minuman beralkohol dapat mencegah bahkan membantu menyembuhkan Covid-19. Apakah hal tersebut benar nyatanya? Simak artikel berikut.

Alkohol

Alkohol adalah kelompok senyawa yang memiliki satu atau lebih gugus OH (gugus hidroksil). Alkohol merupakan salah satu senyawa paling penting karena dapat dengan mudah diubah dari dan ke banyak tipe senyawa lainnya.

Alkohol memiliki banyak jenis dan tentunya tidak semuanya dapat digunakan untuk membunuh kuman. Di antara jenis alkohol yang sering digunakan sebagai disinfektan yaitu etanol dan isopropanol. Sedangkan metanol meskipun termasuk ke dalam alkohol pada kenyataannya sangat tidak efektif dalam membunuh kuman, bahkan beracun dan umumnya digunakan dalam perindustrian. Maka dari itu metanol tidak digunakan sebagai hand sanitizer.

Sudah diketahui sejak berabad-abad lalu bahwa alkohol dapat membunuh kuman. Fisikawan Yunani yang bernama Galen bahkan menggunakan wine untuk membersihkan luka para gladiator pada tahun 150 sebelum masehi.

Alkohol dengan konsentrasi tinggi, mampu mendenaturasi/menghancurkan protein yang menyusun virus atau bakteri (biasanya membran/dindingnya) membuatnya menjadi tidak aktif, atau dengan kata lain membunuhnya.


Lalu Kenapa Mengonsumsi Minuman Beralkohol Tidak Membunuh Virus dan Bakteri?

Menurut CDC (Centers for Disease Control & Prevention), dibutuhkan konsentrasi alkohol setidaknya 60% untuk mampu membunuh kuman. Konsentrasi 60% hingga 90% adalah tingkat konsentrasi yang optimal. Karena hal inilah umumnya hand sanitizer memiliki konsentrasi alhohol 70%.

Minuman beralkohol umumnya memiliki konsentrasi alhokol dibawah 60%, yang mana itu berarti masih dibawah tingkat konsentrasi yang dibutuhkan untuk membunuh sebagian besar jenis virus dan bakteri. Konsentrasi rata-rata alkohol beberapa minuman beralkohol yang populer yaitu beer (4 – 8%), wine (5,5 – 24%), whiskey (36 – 50%), vodka (40 – 95%), dan rum (36 – 50%). Angka-angka tersebut rata-rata memiliki konsentrasi dibawah minimum untuk dapat membunuh virus dan bakteri.

Selain itu, setelah dikonsumsi, kadar alkohol yang memasuki aliran darah juga menjadi jauh lebih rendah dari kadar ketika dikonsumsi. Pada kenyataannya kadar alkohol 0,08% dalam darah pun sudah termasuk kondisi keracunan, yang mana itupun hanya sekitar 1/1000 kadar alkohol hand sanitizer. Kadar alkohol lebih dari 0,35% di dalam aliran darah bahkan sudah termasuk dalam keracunan fatal. Artinya, di dalam aliran darah, alkohol akan membunuh orangnya lebih dulu sebelum membunuh virus dan bakterinya.

Maka dari itu, meskipun mengonsumsi minuman beralkohol seperti vodka misalnya dengan konsentrasi 40% tidak akan membantu membunuh virus dan bakteri membantu sembuh dari infeksi. Bahkan jika meminum minuman berkadar alkohol tinggi hingga 95%, kadar alkohol di dalam darah tetap tidak akan cukup untuk membunuh virus dan bakteri.

Kamu juga bisa membaca lebih lanjut tentang Coronavirus di sumber berikut.

Covid-19: Virus Yang Mematikan?

Alkohol Meningkatkan Risiko Infeksi

Di samping terdengar beracun, alkohol sendiri pada kenyataannya meningkatkan risiko infeksi, terutama konsumsi dalam jumlah banyak. Alkohol berisiko ‘mengacaukan’ gen-gen sel di lambung yang mana dapat berakibat seperti produksi asam lambung yang terlalu banyak. Hal ini merupakan kabar buruk mengingat bahwa asam lambung adalah pertahanan paling efektif terhadap bakteri. Kehadiran alkohol juga diteliti melemahkan sistem imun, membuat patogen lebih mudah menginfeksi. Selain itu, alkohol dan produk sampingannya ketika dikonsumsi juga berisiko mampu membuat lubang yang sangat kecil pada lambung. Hal ini berujung pada semakin mudahnya zat yang bersifat racun untuk ‘bocor’ keluar sehingga membuat hati harus bekerja lebih keras untuk membersihkannya. 

Kesimpulan

Alkohol yang digunakan untuk membunuh virus dan bakteri pada kenyataannya tidak membuahkan hasil yang sama jika kita konsumsi. Kadar yang terlalu sedikit tidak berpengaruh, sedangkan kadar yang tinggi menjadi racun dan berisiko membunuh. Selain itu, alkohol dalam kadar menengah ke atas juga meningkatkan risiko infeksi alih-alih membantu sembuh dari infeksi.

Maka dari itu, sebagai perlindungan dan pertahanan, alangkah baiknya cukup kita gunakan alkohol sebagai disinfektan tangan dan peralatan makan sebagai langkah awal untuk mencegah patogen masuk ke dalam tubuh. Stay safe and healthy!

Referensi: 1 2 3 4 5 6

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular Post

Related Post

Covid-19: Virus Yang Mematikan?

Covid-19: Virus Yang Mematikan?

Pada Desember 2019, puluhan orang di Wuhan, China, mengalami pneumonia. Ternyata hal ini disebabkan oleh mewabahnya virus yang mirip dengan virus SARS.

Membusukkah Manusia Jika Meninggal Di Ruang Angkasa?

Membusukkah Manusia Jika Meninggal Di Ruang Angkasa?

Astronot mengenakan baju khusus ruang angkasa—yang selanjutnya kita sebut spacesuit—agar selamat dari bahaya yang ada di ruang angkasa. Bahaya tersebut seperti radiasi yang dapat merusak tubuh yang sebagian besar dari matahari hingga keperluan dasar seperti oksigen untuk astronot tersebut bernapas. Tetapi jika manusia mati di luar sana, apa yang terjadi pada tubuhnya?

Microplastic: Ancaman Dimanapun Kita Berada

Microplastic: Ancaman Dimanapun Kita Berada

Plastik. Mudah dibuat, murah, tahan lama, dapat dipakai dimana saja. Plastik seperti emas baru dalam peradaban manusia sekarang. Akan tetapi plastik seakan menjadi racun baru bagi lingkungan. Bahkan pada tahun 2018, plastik dapat ditemukan di dalam ‘poop’ manusia. Apa yang sebenarnya terjadi?

Telur atau Ayam, Siapa Lebih Dulu? | Berikut Penjelasannya

Telur atau Ayam, Siapa Lebih Dulu? | Berikut Penjelasannya

Perdebatan terkait dengan keberadaan ayam atau telur yang terlebih dahulu ada bukanlah hal baru yang muncul beberapa tahun belakangan ini, melainkan sudah sejak lama pertanyaan ini menjadi perdebatan baik dikalangan masyarakat biasa hingga para ilmuwan.