Paradoks Peto: Paradoks Mengenai Kanker

oleh | Agu 30, 2020 | Ilmu Kehidupan | 0 Komentar

Paradoks Peto adalah paradoks dimana makhluk hidup yang lebih besar seharusnya memiliki risiko kanker lebih tinggi, namun pada kenyataannya tidak. Hewan-hewan yang berukuran besar seperti paus, jerapah, dan gajah justru memiliki risiko kanker yang lebih rendah.

paradoks peto
Ilustrasi kanker
Copyright: Steve Gschmeissner/Science Photo Library via Getty Images

Memangnya apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa itu menjadi masalah?

Agar lebih mudah memahaminya, mari kita mengulas bagaimana kanker bisa muncul.

Kanker

Semua makhluk hidup tersusun atas suatu sel, baik itu satu sel (uniseluler) maupun banyak sel (multiseluler). Sel-sel tersebut tentunya berinteraksi secara interseluler (antar sel) dan intraseluler (dalam sel). Interaksi tersebut umumnya berupa serangkaian reaksi kimia.

Proses-proses tersebut umumnya memang berjalan dengan sempurna. Namun, memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Proses tersebut dapat mengalami kesalahan yang umumnya dapat diatasi oleh mekanisme khusus dari sel itu sendiri.

Sel tubuh kita memiliki mekanisme untuk bunuh diri. Saat kesalahan dan kerusakan semakin bertambah dan parah, mekanisme tersebut akan dilakukan untuk mencegah risiko kerusakan lebih jauh. Namun, mekanisme ini pun juga tidak sempurna. Saat kesalahan terjadi pada proses yang melibatkan DNA, seperti translasi, transkripsi, dan replikasi, risiko menjadi lebih besar untuk terjadi mutasi dan tumbuh menjadi kanker.

Note:
Kanker adalah sel yang bermutasi. Tumor adalah gumpalan sel, baik sel kanker maupun bukan. Sel-sel kanker umumnya tumbuh secara abnormal membentuk gumpalan yang disebut tumor.

Proses Terkait DNA dan Paradoks Peto

Proses Terkait DNA

Kesalahan pada proses terkait DNA dapat mengakibatkan mutasi pada sel dan menjadi sel kanker. Meskipun umumnya dihancurkan oleh sistem imun. Namun ada kalanya sel kanker selamat dari sistem imun.

Banyak hal yang berkemungkinan terjadi karena mutasi. Mutasi yang tepat dapat membuat sel tersebut kehilangan mekanisme bunuh diri, sembunyi dari sistem imun, menyedot sumber daya (seperti energi dan protein), menggandakan diri lebih cepat, atau yang lainnya. Hal ini tentu merepotkan dan membahayakan makhluk hidup inangnya. Di samping itu, seluruh hewan dan manusia berisiko memiliki kanker.

Sel Hewan Kecil dan Besar dan Paradoks Peto

Umumnya, ukuran sel hewan yang kecil maupun besar tidak jauh berbeda. Yang membedakan keduanya hanyalah jumlah sel dan panjang umurnya. Hewan besar cenderung memiliki jumlah sel yang banyak dan jangka hidup yang lama, begitu pula sebaliknya.

Sangat banyak proses yang terjadi hingga miliaran dan triliunan proses yang terjadi di dalam tubuh. Maka dari itu, semakin banyak jumlah sel dan panjang umurnya, seharusnya semakin banyak kesalahan proses yang terjadi dan semakin banyak pula sel kanker yang muncul.

Namun, ternyata hewan bermassa/berukuran besar justru memiliki risiko kanker yang lebih rendah, bahkan hampir tidak mungkin mati akibat kanker. Hal ini terbalik dengan asumsi sebelumnya dan kita belum tahu dengan pasti apa sebabnya. Kurangnya korelasi antara massa tubuh dan risiko kanker ini dikenal sebagai paradoks Peto. Paradoks ini dinamai berdasarkan ahli epidemiologi Richard Peto dari Oxford University di Inggris, yang mencatatnya pada tahun 1970-an.

Note:
Kanker menjadi penyebab kematian 46% pada tikus, 20% pada anjing, 25% pada manusia (di AS), dan 18% pada paus beluga.

Kemungkinan Jawaban dari Paradoks Peto

Faktor Evolusi

Jutaan tahun lalu, saat hewan semakin besar risiko kanker juga semakin besar. Maka dari itu, hewan harus berevolusi untuk meningkatkan kemampuannya melawan kanker. Hewan yang tidak memiliki pertahanan kuat terhadap kanker tentu akan mati dan menyisakan hewan dengan pertahanan yang lebih kuat.

Maka dari itu, berkembanglah gen untuk melawan kanker yang disebut “gen penekan tumor” (tumor suppressor gene). Gen ini mencegah kerusakan dan mutasi, serta memberi perintah untuk bunuh diri jika kerusakan pada DNA terlalu parah. Diperkirakan bahwa hewan yang lebih besar berevolusi memiliki gen penekan tumor yang lebih banyak dan lebih efisien.

Hipertumor

Seperti halnya hiperparasit (parasitnya parasit) hipertumor adalah tumornya tumor. Sel kanker dapat menggandakan diri membuatnya semakin banyak dan tumbuh membentuk tumor. Pertumbuhan ini tentu membutuhkan kerjasama antar sel kanker serta sumber daya (nutrisi, oksigen, energi, dll) yang banyak. Untuk itu, sel-sel kanker ini terkadang ‘menipu’ tubuh kita untuk memberikannya lebih banyak sumber daya. Hal ini tentu merugikan sel-sel sehat yang ada di sekitarnya.

Secara alamiah, sel kanker sangat tidak stabil. Maka dari itu, sel kanker berisiko untuk bermutasi lagi dan lagi. Dengan waktu yang cukup, sel kanker dapat bermutasi kembali, membuatnya menjadi sel kanker yang berbeda dari sel kanker yang sudah ada dan membentuk tumor baru. Sel kanker yang bermutasi ini berdiri sendiri dan tidak bekerja sama dengan sel-sel kanker yang sebelumnya, bahkan berusaha membunuh sel-sel kanker sebelumnya.

Mekanisme ini diperkirakan menjadi alasan kenapa hewan-hewan besar memiliki risiko kanker yang lebih kecil. Mutasi dari sel kanker itu sendirilah yang menimbulkan ‘perang’ antar tumor sehingga umumnya mati sebelum tumbuh menjadi tumor yang besar dan berbahaya.

Kesimpulan

Triliunan proses yang terjadi di dalam tubuh kita tak luput dari kesalahan. Saat kesalahan itu terjadi, dapat berakibat pada mutasi sel dan sel tersebut menjadi sel kanker. Logikanya, semakin banyak jumlah sel, maka risiko kanker akan semakin besar. Namun paradoks Peto menyatakan sebaliknya. Paradoks ini memiliki dua kemungkinan jawaban yaitu dari kemungkinan faktor evolusi dan hipertumor.

Pada faktor evolusi, hewan berbadan besar mungkin mengembangkan gen penekan kanker menjadi lebih banyak dan efisien untuk melawan kanker. Sedangkan pada hipertumor, kanker tersebut mungkin bermutasi kembali menjadi kanker baru. Kanker baru itulah yang membunuh kanker pertama. Pertarungan seperti ini diperkirakan terus terjadi hingga tidak ada sel kanker yang dapat tumbuh besar dan berbahaya.

  1. Massive Animals May Hold Secrets of Cancer Suppression – Nature
  2. Caulin, A. F., & Maley, C. C. (2011). Peto’s Paradox: evolution’s prescription for cancer prevention. Trends in ecology & evolution26(4), 175–182. https://doi.org/10.1016/j.tree.2011.01.002
  3. How Big Animals Deter Cancer – Scientific American
  4. What Is Cancer? – American Cancer Society
  5. Why Blue Whales Don’t Get Cancer – Peto’s Paradox – Kurzgesagt

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular Natural Science

Popular Social Science

Related Post

Covid-19: Virus Yang Mematikan?

Pada Desember 2019, puluhan orang di Wuhan, China, mengalami pneumonia. Ternyata hal ini disebabkan oleh mewabahnya virus yang mirip dengan virus SARS.

Popular Natural Science

Popular Social Science

Related Post

Covid-19: Virus Yang Mematikan?

Covid-19: Virus Yang Mematikan?

Pada Desember 2019, puluhan orang di Wuhan, China, mengalami pneumonia. Ternyata hal ini disebabkan oleh mewabahnya virus yang mirip dengan virus SARS.