Manajemen Persediaan: Pengertian, Tujuan, dan Metode

manajemen persediaan
Photo by Petrebels on Unsplash

A. Pengertian Manajemen Persediaan

Manajemen persediaan adalah keseluruhan proses mengelola pemesanan, penyimpanan, penggunaan, dan penjualan persediaan (inventory) perusahaan. Proses tersebut termasuk pengelolaan bahan baku, komponen (barang setengah jadi), dan barang jadi.

B. Pentingnya Manajemen Persediaan

Persediaan merupakan salah satu aset paling berharga bagi perusahaan manapun. Persediaan menjadi kunci vital pada perusahaan-perusahaan yang sangat mengandalkan persediaan, misalnya perusahaan retail, manufaktur, dan makanan.

Baik kekurangan persediaan atau memiliki persediaan berlebih keduanya sama-sama menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

Di sisi lain, barang-barang persediaan ini sendiri berisiko rusak atau dicuri sehingga dapat dianggap sebagai liabilitas.

Maka dari itu, manajemen persediaan sangat penting dalam bisnis apapun, baik toko kecil ataupun perusahaan besar. Dengan manajemen persediaan, owner/manajer dapat mengetahui kapan barang harus dipesan, berapa jumlah barang yang harus dipesan, berapa biaya dalam pemesanan tersebut.

Manajemen persediaan pada toko kecil biasanya dilakukan dengan perhitungan secara manual ataupun memakai spreadsheet/Excel, sedangkan pada perusahaan besar biasanya menggunakan software Enterprise Resource Planning (ERP).


C. Tujuan Manajemen Persediaan

Tujuan utama manajemen persediaan adalah meminimalkan biaya penyimpanan dan pemesanan. Adanya manajemen persediaan memastikan bahwa kombinasi dari waktu, jumlah, dan pilihan alternatif yang dipilih menghasilkan biaya persediaan yang minimum bagi perusahaan.

Selain tujuan utama tersebut, tujuan manajemen persediaan yaitu:

  1. Meminimalkan risiko kekurangan barang (stock-out)
  2. Meminimalkan risiko kelebihan barang (excess inventory)
  3. Meminimalkan risiko barang datang terlambat.

Kekurangan barang (stock-out) adalah kondisi dimana persediaan barang tidak ada ketika dibutuhkan, baik itu bahan baku, setengah jadi, ataupun barang jadi. Kondisi stock-out dapat menimbulkan kerugian yang disebut opportunity cost. Namun tidak menutup kemungkinan terdapat kerugian lain seperti biaya mesin dan tenaga kerja yang tersia-siakan, dan lain-lain.

Kelebihan barang (excess inventory) adalah kondisi dimana persediaan barang ada namun permintaan kurang. Atau dengan kata lain, barang disimpan secara berlebih melebihi permintaan barang. Kondisi excess inventory ini menimbulkan kerugian biaya simpan seperti biaya sewa gudang, listrik, dan lain-lain.

Keterlambatan barang datang umumnya disebabkan karena lead time pemesanan barang tersebut yang tidak pasti. Jika barang pesanan datang terlalu cepat dapat menimbulkan kelebihan barang sehingga meningkatkan biaya penyimpanan, sedangkan jika barang pesanan datang terlambat dapat menimbulkan kekurangan barang sehingga menimbulkan biaya peluang (opportunity cost) dan biaya lainnya.


D. Metode Manajemen Persediaan

Ada banyak metode manajemen persediaan di luar sana yang metode penggunaannya bermacam-macam tergantung jenis dan kondisi perusahaan. Beberapa metode manajemen persediaan yaitu:

  1. Just-In-Time (JIT)
  2. Material Requirement Planning (MRP)
  3. Economic Order Quantity (EOQ)
  4. Days Sales of Inventory (DSI)

Selain keempat metode tersebut, masih banyak lagi pendekatan dan metode manajemen persediaan untuk berbagai jenis industri.

Keempat metode manajemen persediaan tersebut dijelaskan sebagai berikut.

1. Metode Just-In-Time (JIT)

Just in time adalah metode manajemen persediaan yang dilakukan dengan hanya menyimpan barang persediaan yang dibutuhkan, baik untuk selanjutnya diproduksi maupun dijual. Metode just in time ini dapat menurunkan tingkat penyimpanan dan mencegah penyimpanan berlebih (excess inventory).

Metode Just in time cukup berisiko untuk diterapkan, terutama jika permintaan tidak stabil, karena apabila terjadi lonjakan permintaan, jelas akan menimbulkan opportunity cost yang dapat berupa menurunnya reputasi perusahaan dan membuat pelanggan berpindah ke tempat lain/kompetitor

Selain itu, adanya delay pada metode just in time dapat menimbulkan bottleneck.

2. Metode Materials Requirement Planning (MRP)

Material Requirement Planning (MRP) adalah metode manajemen persediaan yang bertumpu pada ramalan permintaan. Artinya produsen harus memiliki data historis masa lalu dari kebutuhan/permintaan barang-barang persediaan.

3. Metode Economic Order Quantity (EOQ)

Economic Order Quantity (EOQ) adalah metode manajemen persediaan yang dilakukan dengan menghitung jumlah barang yang harus dibeli setiap kali melakukan pemesanan persediaan. Pada model EOQ, biaya persediaan terdiri dari biaya pesan dan biaya simpan.

Metode/Model EOQ bertujuan untuk memastikan bahwa jumlah pesanan sudah optimal artinya perusahaan tidak melakukan pemesanan terlalu sering ataupun terlalu banyak inventory.

Asumsi pada model EOQ adalah bahwa biaya minimum akan terjadi apabila biaya pesan sama dengan biaya simpan.

4. Metode Day Sales of Inventory (DSI)

Day Sales of Inventory (DSI) adalah metode manajemen persediaan yakni dengan menghitung rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh barang persediaan hingga menghasilkan penjualan.

DSI juga dikenal sebagai average age of inventory, Days Inventory Outstanding (DIO) Days in Inventory (DII), days sales in inventory, atau days inventory.


E. Kesimpulan

Manajemen persediaan adalah segala aktivitas atau proses dalam mengelola pemesanan, penyimpanan, penggunaan, serta penjualan barang-barang persediaan (inventory) yang bertujuan untuk meminimalkan biaya persediaan seperti biaya pesan dan biaya simpan.

Terdapat banyak pendekatan atau metode manajemen persediaan, empat diantaranya yaitu JIT, MRP, EOQ, dan DSI.

Referensi:

Nakamura, M., Sakakibara, S., & Schroeder, R.G. (1998). Adoption of just-in-time manufacturing methods at U.S.-and Japanese-owned plants: Some empirical evidence. IEEE Transactions On Engineering Management, 45(3). https://pdfs.semanticscholar.org/775a/55f8b868bf8c2c4a25474aee5863d8014863.pdf

Tinggalkan komentar