Sampah Plastik: Ancaman Dimanapun Kita Berada

Plastik. Mudah dibuat, murah, tahan lama, dapat dipakai dimana saja. Plastik seperti emas baru dalam peradaban manusia sekarang. Akan tetapi plastik seakan menjadi racun baru bagi lingkungan. Bahkan pada tahun 2018, plastik dapat ditemukan di dalam ‘poop’ manusia. Apa yang sebenarnya terjadi?

Copyright: Swansea University, Released
Sumber

Apa Itu Plastik?

Plastik sebagian besar tersusun dari polimer. Polimer adalah serangkaian atom yang membentuk rantai pola berulang yang panjang, seperti pada gambar berikut. Polimer biasanya tersusun atas atom Karbon dan Hidrogen, dan kadang-kadang Oksigen, Nitrogen, Sulfur, Florin, Klorin, Fosfor, atau Silikon.

Rantai Polimer.
Sumber

Di alam, polimer terdapat dimana-mana, seperti karet alami, sutra, wol, rambut, hingga DNA dan protein. Polimer seperti ini disebut polimer alami (natural polymers).

Tetapi pada penggunaannya, polimer yang kita gunakan adalah polimer buatan, hal ini disebut polimer sintetis (synthetic polymers), yang mana merupakan produk turunan dari minyak bumi.

Polimer sintetis memiliki beberapa keunggulan, yakni ringan, tahan lama, dapat dibentuk hampir ke seperti semua bentuk yang diinginkan, serta mudah dicetak. Kemudahan dalam pembuatannya membuat produksi plastik dapat diproduksi secara massal dan terlampau murah, apalagi bahan mentah yang tersedia melimpah di alam.

Pada dasarnya terdapat beberapa jenis plastik yang di produksi.

  1. Akrilik, contohnya kaca akrilik.
  2. PC (polycarbonate), contohnya pada DVD dan kacamata.
  3. PE (polyethylene), contohnya kresek, kemasan oil, dan armor tentara.
  4. PP, contohnya kotak bekal.
  5. PET/PETE/Polyester, contohnya kemasan makanan atau minumam seperti botol.
  6. PVC, contohnya pipa PVC.
  7. ABS, contohnya pada mainan anak-anak. Akan tetapi terkadang jenis-jenis diatas juga dikombinasi untuk mendapatkan bahan yang tepat.

Hari ini, hampir semua benda dan peralatan sehari-hari memiliki bagian yang terbuat dari plastik. Termasuk handphone, kursi, pakaian, komputer, furnitur, mobil, dan lain sebagainya.

Masalah Pada Plastik

Pada awalnya memang plastik seperti material yang revolusioner. Memiliki keunggulan lebih ketimbang bahan yang lain. Sangat merubah cara manusia menjalani hidup. Tetapi perihal ‘revolusioner’ tersebut pada akhirnya berakhir menjadi sampah.

Plastik memiliki daya tahan yang cukup lama, bahkan 500 hingga 1000 tahun untuk bisa hancur. Akan tetapi ntah mengapa KITA MENGGUNAKAN MATERIAL SUPER KUAT UNTUK SESUATU YANG UMUMNYA SEKALI PAKAI.

Pada tahun 2015 sendiri, sekitar 35% produksi plastik adalah sebagai kemasan dan 46% sampah plastik dunia berasal dari plastik kemasan. Diperkirakan sejak ditemukannya plastik hingga sekarang, kita telah memproduksi 8300 milyar ton kubik plastik.[1]

Apa Yang Sudah Kita Lakukan Pada Sampah Plastik Ini?

Sejauh ini, tepatnya pada tahun 2015, sampah tersebut tercatat 9% didaur ulang, 12% dibakar, dan sisanya 79% terdapat di tempat sampah ataupun tersebar di alam menjadi polusi.[1]

Copyright: oel Guevara / Greenpeace via EPA

Kebanyakan sampah plastik berakhir di laut. Pencemaran plastik yang begitu banyaknya membuat banyak hewan yang mati kelaparan dengan perut penuh benda yang tak dapat mereka konsumsi ini. Bahkan pada tahun 2019, di Filipina ditemukan paus mati dengan perut 40 kg berisi plastik.


Ada Yang Lebih Berbahaya Dari Itu? Ada!

Hal berbahaya tersebut disebut Microplastic. Microplastic adalah plastik yang memiliki ukuran kurang dari 5 mm. Microplastic ini bisa berasal dari plastik yang memang didesain sangat kecil, seperti pada produk-produk kecantikan, maupun dari sampah plastik yang hancur menjadi serpihan serpihan kecil, seperti pada sampah plastik di lautan yang terpapar radiasi matahari terus menerus.

Microplastic
Copyright: pcess609 / iStock

Hal ini tentu mengakibatkan kekhawatiran terutama terhadap bahaya pada zat-zat yang ditambahkan plastik. Misalnya DEHP/Phthalates yang berfungsi agar plastik menjadi lentur yang juga menjadi salah satu penyebab kanker.

Hal tersebut tentunya sangat membahayakan dari dasar rantai makanan hingga ke manusia. Plastik dimakan oleh zooplankton, zooplankton dimakan ikan kecil, ikan kecil dimakan ikan yang lebih besar, kepiting, atau predator lainnya. Dan mereka semua berakhir di piring di meja makan kita. Microplastic bahkan dapat ditemukan pada air keran, bir, hingga garam dapur.[2]

Hal seperti ini memang sangat menghawatirkan. Tetapi masih perlu banyak riset dan penelitian lagi sebelum kita harus panik.

Apa Pelarangan Plastik Adalah Solusi Yang Paling Tepat?

Rasa-rasanya pertanyaan tersebut sulit untuk dijawab. Di sisi lain, bahan yang kita pikir lebih aman ketimbang plastik terkadang di sisi lain memiliki konsekuensi yang lebih buruk.

Seperti pada penelitian yang dilakukan Pemerintah Denmark. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa produksi kantong plastik memerlukan energi dan mengeluarkan emisi CO2 yang lebih sedikit ketimbang produksi kantong dari katun. Kantong tersebut pun harus digunakan 7100 kali agar mempunyai efek negatif yang lebih rendah ketimbang pengunaan plastik.[3]

Di masa-masa seperti ini, masih agak sulit rasanya untuk menentukan apakah penghentian total penggunaan plastik memang solusi yang terbaik. Di satu sisi plastik itu sangat mencemari lingkungan, di sisi lain penggantinya pun masih tidak cukup eco-friendly untuk menggantikan plastik. Semuanya memiliki kelebihan dan kekuranganya sendiri.

Di sisi lain, plastik juga membantu kita memecahkan masalah yang lain. Menurut FAO, sekitar 30% makanan dunia itu terbuang begitu saja. Dan makanan-makanan yang membusuk tersebut tentunya melepaskan gas metana, salah satu gas yang sangat menyumbang pemanasan global. Sejauh ini, plastik masih merupakan kemasan yang paling baik untuk mencegah pembusukan semacam ini, terutama pada saat distribusi makanan.

Jika kita liat dari produsen sampah plastik ini, 27.7% dihasilkan oleh China, dan 10.1% dihasilkan oleh Indonesia, negara kita tercinta ini, dan 62.2% sisanya dihasilkan oleh negara-negara lainnya.[4] Negara seperti China dan Indonesia ini berkembang dengan pesat dalam beberapa puluh tahun terakhir. Merubah hidup jutaan orang dan membuat infrastruktur manajemen sampah seperti ini belum siap untuk menanganinya.

Jika orang-orang di luar sana, katakanlah di negara maju, ingin membuat perubahan lebih baik terkait sampah plastik, mereka harus sama pedulinya terhadap sampah di negaranya maupun di negara-negara yang masih berkembang ataupun yang perlu diperhatikan.

Selama kita memandang masalah plastik sebagai masalah negara sendiri, dan bukan masalah dunia bersama, masalah ini tak akan pernah kita selesaikan.

Sumber dan Referensi:

  1. Plastic Pollution: How Humans are Turning the World into Plastic – Kurzgesagt
  2. In a First, Microplastics Found in Human Poop – National Geographic
  3. This Young Whale Died With 88 Pounds of Plastic in Its Stomach – National Geographic
  4. What Are Plastics? – Plastics Make It Possible
  5. Polymers Basic – Bry Air Prokon
  6. The Countries Polluting the Oceans the Most With Plastic Waste – Plastic Ethics
  7. Natural Polymer – Sceince Direct
  8. List of Synthetic Polymers – Wikipedia
  9. 7 Types of Plastic That You Need to Know – Waste4Change
  10. 7 Different Types of Plastic – AC Plastic Inc
  11. Plastic Pollution – Our World in Data
  12. New Online Platform Fosters Efforts to Curb Food Losses Through Information Sharing – Food and Agriculture Organization

[1] Geyer, R., Jambeck, J.R., & Law, K.L. (2017). Production, use, and fate of all plastics ever made. Science Advances, 3(7).
[2] Kosuth, M., Mason, SA, Wattenberg EV (2018). Anthropogenic contamination of tap water, beer, and sea salt. PLoS ONE 13(4).
[3] Ministry of Environment and Food of Denmark (2018). Life Cycle Assessment of grocery carrier bags. Environmental Project no. 1985.
[4] Jambeck, J.R., Geyer, R., Wileox, C., Siegler, T.R., Perryman, M., Andrady, A., Narayan, R., & Law, K.L. (2015). Plastic waste inputs from land into the ocean. Science 347(6223)

Tinggalkan komentar